Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Biografi Mbah Maimun Zubair, Kyai Inspiratif yang Berkharisma

Daftar Isi [Tampil]

aldanpost - Biografi Mbah Maimun Zubair akan menjadi sebuah pembicaraan istimewa di kalangan umat islam. Siapapun yang sempat mengenal sosoknya secara langsung pasti akan sepakat bahwa Mbah Moen adalah sosok inspiratif. Tak hanya cakap sebagai salah satu kyai, beliau juga aktif dalam ranah politik.

Sosok Kyai Maimun Zubair  yang kemudian dikenal dengan sebutan Mbah Moen termasuk salah satu jajaran ulama besar yang dinilai baik oleh sesamanya.  Beliau bertanggung jawab penuh dalam jabatannya, serta memberikan aura positif untuk sekitarnya. Sosok yang zuhud, penyayang, santun, tegas, dan meniru akhlak Rasulullah SAW adalah kesan yang menempel dalam dirinya.

Biografi Mbah Maimun Zubair

Masa Kecil Sosok Mbah Moen

Lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, Mbah Maimun Zubair menghabiskan masa kecilnya di tanah kelahirannya di Rembang. Ayahnya, KH. Zubair Dahlan dan ibunya Nyai Mahmudah merupakan tokoh kenamaan di tempat tinggalnya. Pasalnya, sang bunda merupakan putri dari Kyai Ahmad bin Syuaib, sang pendiri pesantren Al-Anwar yang nantinya akan diwariskan kepada beliau.

Pada masa remajanya, contoh teladan Mbah Maimun Zubair adalah sang ayah. Dirinya mengemban ilmu ke Banten bersama sang ayah di Pondok Pesantren Lirboyo. Saat itu 17 tahun usianya. Dalam pesantren tersebut diampu oleh ulama kenamaan seperti Kyai Abdul Karim, Kyai Mahrus Ali dan Kyai Marzuki.

Setelah 4 tahun berselang, Mbah Moen muda melanjutkan pembelajarannya menuju Mekkah besama sang kakek, Kyai Ahmad bin Syuaib. Dari pembelajarannya tersebut, beliau berhasil menghafalkan beberapa kitab Al Jurumiyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, dan Rohabiyyah fil Faroidl. Kitab dalam pembelajar nahwu shorof atau tata bahasa arab tersebut menjadi rujukannya dalam memperdalam ilmu Al Quran.

Melanjutkan Estafet Pengelolaan Pesantren

Setelah dirasa cukup baik dalam ilmu, sikap dan teladan Mbah Maimun Zubair diwujudkan dalam mengelola pesantren. Tahun 1965 beliau melanjutkan warisan ilmu dari sang kakek dengan menjalankan estafet ilmu untuk Pesantren Al Anwar.

Dikarenakan image beliau yang cerdas dan mumpuni dalam belajar, lokasi pesantren Mbah Moen menjadi rujukan para orang tua untuk menimba ilmu anak-anak mereka. Di sini, pembelajaran khusus yang diberikan yakni tentang kitab kuning dan turats.

Kehidupan Pribadi Kyai Maimun Zubair

Contoh dan teladan Mbah Maimun Zubair sudah dipupuk oleh ayahandanya sejak kecil.  Beliau banyak belajar tentang keteguhan hati, ketegasan sikap, dan kedermawanan. Hal itu menjadi sebuah poin tersendiri. Wajar saja, sang ayah merupakan salah satu keturunan yang bila dirunut nasabnya, bisa sampai kepada Sunan Giri.

Maimun Zubair bin Zubair Dahlan bin Carik Waridjo bin Munandar bin Puteh Podang (Desa Lajo Singgahan Podang). Mbah Podang merupakan  putra dari Mbah Imam Qomarudin Bojonegoro. Kakeknya Mbah Ali bin Husen Gresik. Buyutnya Mbah Abdullah bin Pangeran Pakabunan bin Panembahan Kulon bin Sunan Giri.

Sedangkan dari sang nenek, Nyai Hasanah binti Kyai Syuaib bin Mbah Ghozali bi Mbah Maulana. Diketahui bahwa Mbah Lanah merupakan salah satu bangsawan tanah Madura yang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Tak heran bila memang silsilah keluarga beliau memang terbukti baik dan sangat potensial menghasilkan cicit buyut yang tak kalah menginspirasi.

Kisah lain yang menjadi contoh teladan Mbah Maimun Zubair adalah saat bersama istri dan anak-anaknya. Beliau adalah lelaki yang santun, baik, dan bisa diandalkan. Mempersunting Nyai Fatimah yang merupakan putri dari KH. Baidhowi Lasem, Mbah Moen memperoleh 7 anak. Meski 4 anak mereka meninggal ketika masih kecil, 3 anak lainnya tumbuh menjadi tokoh yang disegani masyarakat.

Sebut saja KH. Abdullah Ubab, anak perempuannya yakni Neng Shobibah, dan KH. Muhammad Najih. Ketiganya menjadi sosok yang membawa misi untuk umat seperti ayahandanya.  Pola asuh dan cara didik beliau terbukti mampu menghasilkan generasi sholeh sholehah sesuai kebutuhan umat.

Sepeninggal istrinya yang pertama, Sang Kyai juga diketahui pernah menikah dengan Nyai Masthi’ah asal Cepu, putri dari ulama terkenal KH. Idris. Beliau juga mendapatkan banyak anak. Semakin banyak anak, maka akan semakin banyak bala tentara di akhirat. Itulah yang menjadi salah satu teladan Mbah Maimun Zubair yang bisa dijadikan prinsip hidup. Salah satu sosok osok putra yang terkenal dari pernikahan ini antara lain KH. Majid Kamil.

Mbah Moen adalah sosok yang mulia di mata masyarakat, tak heran bila banyak orang menjulukinya sebagai Kyai Inspiratif. Sepak terjangnya di dunia pendidikan dan politik adalah sebuah hal yang bisa dicontoh semangatnya.

Kiprah Politik Mbah Moen

Masyarakat pun bisa melihat teladan Mbah Maimun Zubair saat melibatkan diri di ranah politik. Pada tahun 1971, Mbah Moen memulai terjun ke dunia perpolitikan. Mengawali karir sebagai salah satu anggota DPRD Rembang, beliau menjabat hingga tahun 1978. Berselang 10 tahun kemudian, beliau menjadi anggota MPR RI utusan dari Jawa Tengah hingga tahun 1999.

Tak hanya itu saja, Mbah Maimun Zubair juga aktif dalam organisasi besutan Mbah Hasyim Ashari. Dalam Nahdatul Ulama, beliau pernah menjabat sebagai ketua Syariah NU untuk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1985 hingga 1990. Setelahnya, beliau menjabat sebagai ketua Jam’iyah Thaqidah Nahdatul Ulama. 

Pada tahun 1995 hingga 1999 beliau melebarkan sayap dengan bergabung bersama partai politik. PPP adalah wadah yang dipilihnya kala itu. Di sana beliau juga didapuk sebagai ketua MPP PPPP sebagai ketua Majelis Syari’ah. Bukankah beliau sangat mengesankan?

Karya-Karya Kyai Maimun Zubair

Teladan Mbah Maimun Zubair juga terlihat dalam contoh penerapan ilmu yang diwujudkan dalam beberapa karya. Setidaknya terdapat 7 buku yang ditulis beliau sebagai warisan untuk anak dan murid-muridnya:

1.    Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniah bi Sarang Al-Qudama’ yaitu kitab yang berisi riwayat            hidup para ulama Sarang secara lengkap
2.    Al-Ulama’ Al-Mujaddidun, yaitu kitab ilmiah tentang pelajaran yang didapatkannya. Kitab inilah           yang kerap dikaji Gus Baha sebagai referensi dalam ceramahnya
3.    Nushushul Akhyar menjadi salah satu karya terbaiknya. Di dalamnya membahas tentang tata cara           penetapan awal puasa Ramadan, penetapan Syawal, dan beberapa pembahasan terkait tempat Sa’i           dan Mekkah
4.    Taqirat Badi Amali.
5.    Kifayatul Ashhab.
6.    Taqrirat Mandzumah Jauharut Tauhid.
7.    Maslakuk Tanasuk, yakni kitab yang membahas pendapat sanad tariqot Mbah Moen kepada Sayyid        Muhammad Al Maliki dan pembahasannya yang mendalam.

Wafatnya Sang Legenda

Sang legenda wafat di Makkah pada tanggal 6 Agustus 2019 pada umurnya yang ke 90 tahun saat sedang melakukan ibadah haji. Saat kepergiannya, Mbah Moen masih menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah di PPP. Beliau berdedikasi sampai akhir hayatnya. Jenazahnya kemudian dimakamkan di tanah haram, satu kompleks dengan pusara istri Nabi, Khadijah.

Sebagian besar teladan Mbah Maimun Zubair bisa dilihat dalam kegiatan hariannya. Sungguh sebuah tata laku yang mengagumkan. Karya-karyanya juga menjadi salah satu tolok ukur kecerdasan beliau. Dari beliau, aneka pelajaran kehidupan bisa dipetik dan dijadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar untuk "Biografi Mbah Maimun Zubair, Kyai Inspiratif yang Berkharisma"

Berlangganan via Email