Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sejarah Sunan Muria Dalam Menyebarkan Ajaran Islam

Daftar Isi [Tampil]

alhuda14 - Sejarah Sunan Muria dalam menyebarkan ajaran Islam di Kudus ditempuh melalui kesenian Jawa yang melestari hingga sekarang. Gaya beliau dalam menyebarkan dakwah meniru cara yang dilakukan oleh ayahnya yaitu Sunan Kalijaga. Penyebaran agama Islam dengan cara menyusup pada kebudayaan dan tradisi di Jawa.

Selain dengan membaur dengan tradisi Jawa, beliau juga melakukan dakwah dengan melalui kesenian tembang dan alat musik Jawa. Dengan begitu ajaran Islam menjadi gampang diterima oleh masyarakat. Berikut adalah ringkasan sejarah Sunan Muria.

Sejarah Sunan Muria

Sejarah Sunan Muria Dalam Menyebarkan Agama Islam

Sejarah Sunan Muria menyebarkan agama islam dalam berdakwah terkenal dengan sebutan topo ngeli. Yang mana model dakwah yang menyatukan dan menghanyutkan diri dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Asal Usul Pemberian Gelar Sunan Muria

Asal usul Sunan Muria merupakan anak dari Dewi Saroh dan Sunan Kalijaga. Beliau mempunyai nama asli Raden Umar Syahid. Beliau memilih tinggal di Colo yang merupakan salah satu puncak Gunung Muria yang berada di utara Kudus. Karena tinggal di Gunung Muria itulah maka Raden Umar Syahid kemudian dipanggil dengan sebutan Sunan Muria.

Cara Dakwah Sunan Muria

Diceritakan dalam sejarah Sunan Muria, bahwa cara dakwah Sunan Muria sama dengan cara yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yaitu ayahnya. Beliau menggunakan pendekatan-pendekatan halus dengan langsung menyatu dengan masyarakat.

Namun beliau memilih untuk menyasar rakyat biasa dengan tinggal di desa, daripada kaum bangsawan atau di kota. Berikut adalah sejarah Sunan Muria lengkap dengan segala lika likunya. Sunan Muria bergaul dengan golongan rakyat jelata dengan cara mengajarkan cara berdagang dan bercocok tanam, selain mengajarkan cara melaut.

Dalam sejarah Sunan Muria diceritakan bahwa beliau mengajarkan tentang bagaimana menjaga ekosistem. Kemudian bagaimana cara bersosialisasi dengan makhluk hidup. Dan yang ketiga bagaimana cara agar keimanan dan ketaqwaan manusia terus meningkat setiap harinya.

Beliau tetap mempertahankan kesenian mereka dalam berdakwah. Beliau juga memakai kesenian wayang dalam membeberkan ajaran islam, sehingga masyarakat menjadi lebih tertarik untuk mengenal islam lebih jauh. Sejarah tentang Sunan Muria juga sangat menghormati kebudayaan setempat.

Misalnya saja dalam memperingati kematian seseorang biasanya diadakan kenduri dengan membuat sesaji yang dibarengi dengan bakar kemenyan. Beliau tetap memperbolehkan kegiatan telung dinonan atau tiga hari hingga nyewu atau mengenang seribu hari tersebut. Namun kegiatan bakar kemenyan dan sesaji diganti dengan sholawatan dan doa-doa.

Sejarah Sunan Muria juga mengatakan bahwa beliau juga menggunakan kesenian tembang macapat Jawa yang sarat akan ajaran Islam. Beliau menciptakan tembang kinanthi dan tembang sinom. Gaya dakwah moderat itulah yang membuat beliau disegani oleh masyarakat. Sunan Muria melakukan dakwah di Tayu, Juwana, Pati, Kudus maupun Jepara.

Beliau terkenal sebagai penengah pada konflik yang terjadi di tengah-tengah Kasultanan Demak. Dalam cerita sejarah Sunan Muria dikatakan bahwa beliau mampu memecahkan masalah serumit apapun. Solusi yang diberikan juga pasti dapat diterima semua pihak yang bertikai. Beliau juga dikenal memiliki kesaktian yang mumpuni.

Dalam sejarah Sunan Muria diceritakan, bahwa Sunan Muria dan istrinya dapat menempuh perjalanan hanya dalam beberapa jam saja. Padahal Gunung Muria mempunyai tinggi tujuh ratus lima puluh meter. Fisik beliu yang kuat juga didukung dengan kesaktiannya yang luar biasa. Saat itu Sunan Muria menikah dengan Dewi Roroyonoyang merupakan anak dari Sunan Ngerang.

Namun karena konflik, terjadi penculikan terhadap istrinya yang dilakukan oleh Kapa. Terjadi perkelahian antara keduanya, karena Kapa juga seorang yang sakti. Namun saat Kapa menyerang Sunan Muria dengan ajiannya, justru serangan itu malah berbalik menyerang Kapa hingga Kapa tewas.

Peninggalan Sunan Muria

Peninggalan sejarah Sunan Muria berupa tembang macapat yang diciptakannya, yaitu tembang kinanti dan sinom. Kedua lagu macapat tersebut masih dilestarikan hingga saat ini dan masih sering disenandungkan para orang tua ketika menidurkan anak cucunya.

Sunan Muria juga meninggalkan seni gamelan dan cerita wayang kisah Dewaruci. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Werkudara sedang mengembara mencari kebenaran islam.Namun menurut sejarah Sunan Muria, beliau mengganti nama tokohnya.

Bima atau Werkudara diganti dengan Nafs Hayawaniyyah Lhawaudadi. Lautan yang luas diganti menjadi Bahrul Wujud. Sunan Muria juga meninggalkan resep ramuan jintan hitam dan madu lebah yang kemudian disenut dengan nama habatussauda. Yang mana resep ramuan tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan dan diteruskan hingga zaman sekarang.

Ramuan tersebut disebut orang jawa sebagai ramuan parijoto, khasiatnya untuk menyuburkan kandungan wanita. Biasanya diajukan pada pasangan yang ingin segera mempunyai anak. Dalam sejarah Sunan Muria diceritakan bahwa beliau mengajarkan cara mengolah tanaman.

Tanaman yang beliau olah adalah buah parijoto, kayu pakis haji, kayu adem ati, ngebul bulusan, dan hutan jati keramat. Pakis haji ini dapat dijadikan sebagai pengusir tikus. Peninggalan lainnya adalah Masjid Sunan Muria yang mana sekaligus terdapat Makam Sunan Muria. Masjid ini dibangun dengan tiang yang berasal dari Bali atau Pulau dewata.

Interiornya juga sangat eksotis dan indah. Atapnya dibuat khas dengan atap bersusun, jadi di atas atap masih ada tatap lagi. Untuk ruang mihrab dibuat dengan gaya melengkung. Sedangkan tiangnya masih menggunakan kayu jati dengan ukiran gambar naga dua ekor dengan posisi yang berlawanan dan ekor yang menyatu.

Dalam sejarah Sunan Muria diterangkan bahwa makam Sunan Muria terletak di puncak bukit Muria. Makam tersebut terletak di belakang Masjid Sunan Muria. Untuk mencapai makam Sunan Muria bisa ditempuh dengan melewati anak tangga yang tingginya sekitar tujuh ratus lima puluh meter.

Di sana terdapat tujuh belas batu nisan. Ketujuh belas batu nisan tersebut merupakan makam prajurit, punggawa dan patih Keraton. Sedangkan makam dari Sunan Muria berada di sebelah utara batas pelataran. Putri dari Sunan Muria yaitu Raden Ayu Nasiki dimakamkan di sampingnya sebelah timur.

Putra Sulung Sunan Muria yaitu Panembahan Pengulu Jogodipo dimakamkan di selatan mihrab belakang dinding barat masjid Muria. Ada lagi peninggalan pohon jati yang umurnya sudah ratusan tahun, namun hingga sekarang pohon tersebut tidak ada yang berani menebangnya.

Ada lagi sumber mata air Situ Gentong yang mana air ini mampu menyembuhkan penyakit dan mencerdaskan otak. Banyak anak-anak yang dianjurkan mengkonsumsi air ini. Kebenaran tentang khasiat air ini juga sudah dibuktikan dengan penelitian ilmuwan Jepang. Bahwa kandungan air Situ Gentong dapat membantu penyembuhan penyakit.

Sikap toleransi Sunan Muria juga contoh yang dapat kita jadikan tauladan dalam kita hidup bermasyarakat. Karena dengan saling menghormati itulah maka keharmonisan dapat terjalin. Sikap menghormati itu yang di zaman sudah mulai tergerus.

Dari sejarah Sunan Muria dapat diambil hikmah bahwa dalam kehidupan haruslah seimbang. Mengesampingkan egoisme masing-masing agar terwujud hidup rukun sesuai ajaran Islam. Semoga kita dapat mengikuti apa yang telah diajarkan para ulama terdahulu.

Posting Komentar untuk "Kisah Sejarah Sunan Muria Dalam Menyebarkan Ajaran Islam"

Berlangganan via Email