Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kitab Sejarah Para Wali Beserta Sepenggal Kisahnya

Daftar Isi [Tampil]

Kitab Sejarah Para Wali - Haruslah dimiliki dan dipahami oleh umat muslim di dunia khususnya di Indonesia. Karena dari kitab ini, Anda bisa mengetahui berbagai kisah para wali yang berperan besar menyebarkan agama Islam di muka bumi.

Wali yang ada dan tercatat pada kitab tersebut sangatlah banyak yaitu 689 biografi para wali yang menyebarkan Islam di dunia dan pada akhirnya menyebar di tanah Nusantara. Salah satu kitab yang lengkap membahas para wali ini adalah Hilyat Al-Auliya’ Fi Thabaqat Al-Ashfiya’.

Kitab sejarah para wali terdiri dari 12 jilid dan termasuk yang paling lengkap saat ini. Jadi, Anda dapat mengenal para wali Allah ini dengan baik jika mengoleksi kitab ini. Sejarah para wali ini sangatlah panjang jika dibahas satu per satu. Oleh karena itu, hanya kisah dan sejarah beberapa wali saja yang dipaparkan pada artikel ini.

Kitab sejarah para wali
Kitab sejarah para wali

Kitab Sejarah Para Wali Beserta Sepenggal Kisahnya

Kisah Wali Allah Dan Penyakit

Pada kitab sejarah para wali yang sama diceritakan bahwa salah satu Waliyullah yang bijak dan memiliki ilmu tinggi. Salah satu kelebihan beliau adalah dapat berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak biasa dan kasat mata. Salah satunya adalah wabah penyakit.

 Menurut kitab tersebut Waliyullah yang alim nan bijaksana ini bertemu langsung dengan wabah penyakit yang dinamakan Tho’un dan sedang berangkat ke suatu tempat. Kemudian Wali pun balik bertanya “Kalian wahai-wabah penyakit hendak akan kemana?”. “Kami sedang menuju Damaskus. Tujuan kami adalah memberikan cobaan dan ujian kepada umat manusia di Kota tersebut dengan menjangkiti penduduknya”, jawab sang wabah.

Wali tersebut bertanya kembali “berapa kalian akan menetap di sana?”.

Wabah menjawab “dua tahun”.

Waliyullah melanjutkan pertanyaannya “Berapa banyak penduduk yang akan meninggal dan sakit nantinya?”.

Wabah menjawab kembali “seribu orang”. Kemudian wabah tersebut meninggalan Waliyullah tersebut.

Beberapa saat kemudian tersiar kabar menghebohkan. Dimana di Kota Damaskus terjadi wabah hebat dan menjangkiti banyak orang. Penduduknya panik karena wabah ini karena banyak orang yang terjangkit wabah tersebut dan banyak pula yang meninggal.

Selang dua tahun kemudian, kisah yang tertera pada kitab sejarah para wali menyatakan bahwa Wali Allah ini bertemu kembali dengan serombongan wabah yang sama pada dua tahun sebelumnya. Wali yang alim dan bijaksana ini bertanya bagaimana terjadinya penyebaran wabah penyakit di Damaskus lengkap beserta penduduk yang terjangkit penyakit dan yang wafat.

Wabah ini pun menjawab, bahwa jumlah penduduk yang meninggal mencapai 50 ribu jiwa. Wali Allah inipun terheran-heran karena jumlah ini jauh melampaui dari yang diceritakan wabah tersebut sebelumnya.

Menurut kitab sejarah para wali ini, wabah tersebut memberikan pernyataan tambahan bahwa yang meninggal disebabkan wabah ini sebanyak seribu orang. Akan tetapi, 49 ribu lainnya meninggal karena takut melihat wabah penyakit tersebut. Penduduk lainnya merasakan panik yang berlebihan sehingga hati dan semangat mereka runtuh sehingga wabah ini mudah menyerang mereka dan menyebabkan jumlah yang meninggal meningkat tajam.

Melalui kisah dan sejarah Waliyullah di atas, Anda dapat mengambil hikmah bahwa penyakit dan wabah ini dapat mempengaruhi psikologis manusia. Menurut Ibnu Sina atau yang dikenal sebagai Avicenna di Negara Barat bahwa kepanikan merupakan sebagian dari penyakit sedangkan ketenangan adalah separuh dari obat dan kesabaran merupakan awal dari kesembuhan seutuhnya.

Wali Allah Yang Meninggalkan Tahta Dan Menjadi Hamba Allah Yang Setia

Kisah yang tertera pada kitab sejarah para wali adalah Waliyullah bernama Ibrahim bin Adham. Ibrahim bin Adham lahir di Pangran Balkh yang merupakan tempat yang erat dengan lahirnya ajaran Buddha. Oleh karena itu, Wali satu ini sering dikaitkan dengan Sidharta Gautama karena dalam hidupnya wali ini mengalami perubahan besar dan mulai mencari pencerahan rohani layaknya kisah Sidharta Gautama.

Kisah beliau dipersingkat ketika dirinya mulai bergejolak dalam mencari pencerahan rohani. Pada awalnya Ibrahim bin Adham adalah seorang raja yang sudah mengalami berbagai peperangan. Namun, setelah melakukan peperangan sebanyak dua kali dengan Nabi Khidir, wali ini mengalami perubahan total dalam hidupnya. Menurut riwayat lainnya, Waliyullah ini kemudian meninggalkan semua tahta dan kekayaannya dan melakukan perjalanan, merenung serta hidup zuhud.

Kitab sejarah para wali ini kemudian melanjutkan bahwa Ibrahim bin Adham melakukan perjalanan ke berbagai daerah termasuk Syam. Selama perjalanannya beliau melakukan berbagai pekerjaan halal agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Menurut riwayatnya, beliau juga mengikuti beberapa peperangan dan akhirnya syahid ketika mengikuti ekspedisi kedua saat melawan Kerajaan Byzantium masa itu.

Namun, para ulama dan pakar sejarah muslim masih berdebat dimana letak makamnya. Karena, kisah beliau tersebar di berbagai daerah layaknya sang legenda yang dikenal di berbagai negara dan dekat dengan hati masyarakat. Kisah beliau sangatlah banyak dan membekas di hati masyarakat bahkan sesame ulama besar terdahulu. Salah satunya adalah kisah membeli kemiskinan.

Menurut kitab sejarah para wali Waliyullah Ibrahim bin Adham bertemu dengan anak laki-laki yang mengeluhkan kemiskinannya. Ibrahim kemudian berkata “Nak, barangkali kamu belum membayar harga kemiskinan yang dihadapi sekarang?”. Setelah itu laki-laki itu menjawabnya “Betapa mustahilnya yang Anda katakan, mana mungkin ada orang yang membeli kemiskinan?.

Ibrahim menjawab “Aku. Setidaknya aku telah memilih kemiskinan dengan harga kerajaan dunia tersebut, dan aku akan tetap membeli kemiskinan tersebut walaupun harganya mencapai seratus dunia.” Pernyataan inilah yang membuat beliau begitu terkenal karena rela meninggalkan kekayaan dan kekuasaan di dunia demi menjadi hamba Allah yang mulia. Beliau juga selalu merenung sepanjang waktu hanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kitab sejarah para wali juga meriwayatkan bahwa pada suatu waktu Ibrahim bin Adham bertamu ke Mekkah di kediaman Ali Abdul Aziz bin Abi Rawab. Ibrahim datang dengan membawakan kantung dari kulit biawak dan ia gantungkan disuatu tempat. Kemudian Waliyullah tersebut meninggalkan kantung tersebut dan pergi thawaf.

Pada waktu yang sama, ulama besar lainnya yang bernama Sufyan al-Tsauri datang bertamu ke tempat Ali Abdul Azis. Sufyan terheran-heran dan penasaran dengan kantung milik Ibrahim yang sedang tergantung tersebut. Kemudian Sufyan bertanya kepada Ali Abdul Aziz “Siapakah pemilik kantung ini?. setelah itu jawaban dari Ali  “itu adalah yang dimiliki sahabatmu Ibrahim bin Adham.”.

Sufyan menjadi semakin penasaran dan memegang kantung tersebut. Ia memperkirakan isinya adalah buah-buahan ataupun makanan. Namun, ketika dibuka Sufyan al-Tsauri kaget karena isi kantung tersebut hanyalah tanah. Menurut kitab sejarah para wali, Ali Abdul Azis menceritakan perilaku Sufyan kepada Ibrahim dan menanyakan hal yang sama “Apakah isi kantung tersebut hanyalah tanah Syekh?”.

Ibrahim pun seraya menjawab “benar, itu merupakan makanan sejak sebulan yang lalu.” Ali Abdul Azis pun terdiam dan tidak bertanya lagi. Ternyata Syekh Ibrahim bin Adham ini sering memakan tanah karena khawatir akan makanan yang tidak halal baik cara memperoleh ataupun zatnya sendiri. Sikap beliau yang cukup ekstrem ini didasari kekhawatiran akan siksaan api neraka bagi umat yang memakan barang haram tersebut.

Kitab sejarah para wali tentunya memiliki ratusan bahkan ribuan kisah dan sejarah para Waliyullah besar di muka bumi. Sejarah dan kisahnya haruslah diketahui umat muslim agar dapat meniru perbuatan baik mereka sesuai syariat agama dan menghindari berbagai hal yang dilarang oleh aturan Islam.

Posting Komentar untuk "Kitab Sejarah Para Wali Beserta Sepenggal Kisahnya"

Berlangganan via Email