Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Perjalanan Sejarah Sunan Ampel di Surabaya

Daftar Isi [Tampil]

Aldanpost.com - Perjalanan Sejarah Sunan Ampel di Surabaya! Raden Rahmad atau Sunan Ampel, merupakan waliyullah yang sangat tinggi kedudukannya. Beliau adalah sosok “kakak tertua” yang bisa menjadi pedoman bagi para wali lainnya. Bahkan dikatakan lebih lanjut bahwa Sunan Ampel adalah kekuatan spiritual di balik berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa (Kerajaan Demak).

Menurut beberapa sumber “babad”, Sunan Ampel bukanlah asli Jawa, melainkan Campa. Masih belum jelas bahwa Campa disini merupakan daerah di Kamboja (Indocina) atau daerah di Aceh. Meskipun begitu, banyak ahli mengatakan bahwa Sunan Ampel adalah keturunan Cina dan berdarah Arab. simak juga tentang Sejarah Sunan Blongsong Bojonegoro

Sejarah Sunan Ampel

Asal Usul Sunan Ampel Menurut Babad Tanah Jawi

Sejarah Sunan Ampel di Surabaya begitu besar, sehingga banyak yang menanyakan asal usulnya. Namun menurut Babad Tanah Jawi, disebutkan bahwa beliau adalah keturunan Syekh Maulana Ibrahim Asmorokondi yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Syekh Maulana Ibrahim Asmorokondi merupakan guru agama Islam yang berasal dari Timur Tengah atau suatu tempat di Asia Tengah. Sementara ibunya adalah putri Campa.

Lalu, mengapa Raden Rahmad tidak bergelar Syekh seperti penyebar agama Islam lainnya yang berasal dari Arab? Menurut beberapa sumber dan babad, Sunan Ampel muda sering dipanggil Rahmad. Beliau kemudian mendapatkan gelar “Raden” saat berada di Majapahit.

Beberapa sumber mengatakan bahwa sejarah Sunan Ampel di Surabaya bermula dari kedatangan beliau di Majapahit di awal abad ke-14. Setelah menempuh perjalanan panjang lewat samudera, Raden Rahmat tiba di pusat kerajaan Majapahit bersama adiknya Raja Pandhita (Raden Santri). Beliau juga datang bersama anak pamannya (raja Campa) yang bernama Beureurah atau Burerah.

Setibanya di Majapahit, mereka bertiga diterima dengan baik dan dianggap sebagai keluarga kerajaan. Sebab, Raden Rahmat dan adiknya adalah keponakan dari permaisuri Prabu Brawijaya yang namanya Dewi Murtiningrum. Dalam Babad Tanah Jawi, bibi Raden Rahmad atau istri Prabu Brawijaya ini dikenal sebagai Ratu Darawati.

Nah, saat berada di Majapahit inilah, mereka bertiga memperolah gelar “raden” dan mendapatkan kesempatan untuk menguasai suatu wilayah. Raden Rahmat diberi kesempatan untuk menduduki wilayah Surabaya, tepatnya di Ampel. Sementara Raden Santri dan Raden Burerah diberikan tanah di Gresik untuk tempat tinggal. Dan dari sinilah, sejarah Sunan Ampel di Surabaya dimulai.

Adapun pemberian gelar Raden Rahmad, Raden Santri, dan Raden Burerah, karena mereka dianggap sebagai bangsawan. Mereka juga perlu dihormati karena menyandang gelar asy-Syarif atau ningrat Arab sebelumnya. Berdasarkan padanan, gelar Raden ini umumnya disejajarkan dengan keturunan raja-raja Jawa. Dan karena itulah, Raden Rahmat tidak lagi menjadi orang asing dan berhasil memperbanyak pengikutnya.

Kiprah dan Sejarah Sunan Ampel di Surabaya Hingga Disebut Wali Songo

Perpindahan Sunan Ampel ke Surabaya ditulis dalam sebuah buku “Oud Soerabaia” (1931), karangan G.H.Von Faber. Dalam buku itu disebutkan bahwa Raden Rahmat pindah bersama 3.000 keluarga pengikutnya. Sementara sumber sejarah Sunan Ampel di Surabaya (Babad Ngampeldenta) menyebutkan jika jumlah orang yang ikut ke Surabaya sebanyak 800 keluarga.

Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa selama di Jawa, beliau menikah dengan putri adipati Tuban (Arya Teja). Yang mana putri dari Arya Teja ini kita kenal sebagai Nyai Ageng Manila. Dengan gelar Raden dan kedudukannya sebagai menantu adipati Tuban, maka beliau bisa mengembangkan kiprahnya dalam menyebarkan agama Islam dari Surabaya.

Bahkan ajaran beliau juga terus berkembang ke seluruh Tanah Jawa. Menurut beberapa sumber sejarah sunan ampel di Surabaya, beliautidak sendirian, namun dibantu oleh murid-murid dan anak-anaknya. Beliau juga mendapatkan julukan “Suhun” karena menjadi guru besar agama Islam. Suhun adalahkata dasar dari Sunan, menurut buku “Javaansch-Nedherlansch Handwooenboek”.

Nah, dari situlah panggilan sunan muncul, dan karena beliau menetap di Ampel, maka beliau mendapatkan gelar Sunan Ampel. Lalu bagaimana kiprah Sunan Ampel hingga disebut wali Allah? Menurut Drs.H.Syamsudduha dalam buku Jejak Kanjeng Sunan (1999), disebutkan bahwa waliyullah tidak sekedar sebutan, namun juga ada “roh” di dalamnya.

Sebutan wali juga tidak bisa dilepaskan dari Al Quran, seperti yang terdapat dalam Surat Yunus ayat 62-64. Ayat itu mengandung makna bahwa wali Allah, adalah orang yang karena iman dan taqwanya tidak mengenal takut dan sedih. Ia akan senantiasa gembira dan optimis dalam perjuangan, karena yakin dengan janji Allah, untuk memberi kemenangan dan keberhasilan. Itulah mengapa sejarah Sunan Ampel di Surabaya kian populer.

Berkat kiprah Sunan Ampel di Surabaya, maka penyebaran Islam di Tanah Jawa semakin nyata. Sunan Ampel juga dibantu oleh delapan penyebar agama Islam lain yang juga memperoleh gelar yang sama “waliyullah”. Satu di antaranya dipanggil Syekh, bukan Sunan. Dan dari sembilan waliyullah inilah kemudian dikenal sebutan Wali Songo.

Dakwah Sunan Ampel di Surabaya

Dalam sejarah Sunan Ampel di Surabaya, makna Sunan berarti yang di junjung tinggi atau panutan bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan beliau setibanya di Ampeldenta adalah membangun masjid untuk berdakwa. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi sewaktu hijrah ke Madinah.

Selanjutnya Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren untuk mendidik siapapun yang mau berguru kepada beliau, khususnya pangeran Majapahit dan putra bangsawan. Beliau memiliki tugas untuk memperbaiki moral pemuda atau warga setempat dengan falsafah beliau yang paling terkenal, yang dinamai Mo Limo.

Falsafah Mo Limo artinya tidak mau melakukan lima perbuatan atau lima hal tercela. Lima hal ini meliputi: main judi, mabuk-mabukkan (minum arak), mencuri, madat (menghisap madu), dan madon (main perempuan yang bukan isterinya). Perkembangan sejarah Sunan Ampel di Surabaya ini tidak terlepas dari dukungan Prabu Brawijaya. Beliau sangat senang dengan hasil didikan Raden Rahmat, dan tidak marah ketika rakyatnya berpindah agama.

Prabu Brawijaya mengizinkan rakyatnya memeluk agama Islam asalkan tidak ada paksaan di dalamnya. Sementara itu, Prabu Brawijaya sendiri tidak pernah mau untuk memeluk agama Islam. Tidak ada dorongan atau paksaan dari Sunan Ampel untuk berdakwa. Bahkan beliau menolak ketika putra Prabu Brawijaya (Raden Patah) meminta izin untuk menyerang Majapahit karena ayahandanya tidak mau masuk Islam.

Raden Rahmad dalam sejarah Sunan Ampel di Surabaya mengatakan bahwa kita sebagai umat muslim tidak boleh mendahului takdir. Bahkan beliau juga mengatakan jika Prabu Brawijaya telah berbaik hati karena mengizinkannya untuk menyebarkan agama Islam di Surabaya. Untuk itu, jika Prabu Brawijaya belum mau masuk Islam, itu karena Allah belum menghendakinya. Dan karenanya, kita harus menerima kehendak Allah. simak juga tentang Sejarah Sunan Ampel

Dari sejarah Sunan Ampel di Surabaya, kita tahu bahwa untuk menjadi pemimpin atau panutan, maka kita tidak boleh memaksa. Sebagaimana Sunan Ampel juga tidak pernah memaksakan agama Islam kepada rakyat Majapahit. Dan dengan dipilihnya beliau sebagai Mufti atau pemimpin agama Islam se Tanah Jawa, maka banyak sekali pengikutnya yang memperoleh karomah. Termasuk putranya sendiri yakni Sunan Bonang dan Sunan Drajad.

Posting Komentar untuk "Perjalanan Sejarah Sunan Ampel di Surabaya"

Berlangganan via Email