Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Riwayat Sejarah Sunan Bejagung‎

Daftar Isi [Tampil]

Aldanpost.comRiwayat Sejarah Sunan Bejagung‎. Pernah dengar kata Tuban , Ada makam Sunan Bejagung yang banyak dikunjungi peziarah untuk memohon berkah. Tahukah kamu siapa Sunan berjagung, akan di bahas sebagai berikut ini.

Sunan bejagung memiliki nama Asli, Sayyid Abdullah Asy’ari bertinggal  di Desa Bejagung, Sunan Bejagung Lor Tuban, setelah meninggal makam nya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding (2 Km kearah selatan kota Tuban) yang sekarang disebut Sunan Bejagung.

Sejarah Sunan Bejagung‎
Sejarah Sunan Bejagung‎


Kehidupan Sunan Bejagung

Kalau Anda berkunjung ke Tuban, datanglah ziarah ke makam  Sunan Bejagung. Memang, situs ini tak seterkenal makam Sunan Bonang. Tapi, kini mulai ramai pengunjung.‎

Putra Majapahit memilih menjadi santri Sunan Bejagung dan pergi dari istana karena  adanya perebutan kekuasaan antara dua bersaudara Pangeran Wirabumi dan Putri Kusuma Wardani, lalu merubah namanya menjadi Hasyim Alamuddin, lalu lebih populer dengan gelar santrinya Pangeran Penghulu.

‎Dikatakan Kiai Matin, disebabkan mempunyai  kemampuan yang katanya telah setara dengan Sunan Bejagung, akhirnya tugas dakwah di Kasunan Bejagung diberikannnya untuk Pangeran Penghulu. Itu merupakan penghargaan tertinggi Sunan Bejagung untuk putra mantunya.‎

Setelah semua tugas dakwah diberikan untuk menantunya,  Sunan Bejagung lalu ingin uzlah (pindah) ke perdikan Bejagung Lor hingga menutup mata. “Peziarah berdatangan untuk melakukan rialat, namun harus berawal dari makam Bejagung Kidul. Walaupun secara pribadi makam kewaliannya lebih tinggi dari Bejagung Lor,” kata Kiai Matin.‎

Yang dijalankan Sunan Bejagung seperti jejak  Rasulullah s.a.w. ketika mempunyai menantu Sayyidina Ali. Sabda Rasulullah dan memiliki arti yaitu ibarat saya yaitu kotanya ilmu, sementara Ali adalah pintunya. Maka barangsiapa akan menuju kota hendaklah melalui pintu kota).

‎Sunan Bejagung memiliki  nama asli Maulana Abdullah Asy'ari adalah Ia adalah  putra dari  Sayyid Jamaluddin Al Kusaini Al Kubro yang terkenal dipanggil Syech Jumadil Kubro. Ia adalah keturunan dan generasi Wali Songo bersama kakak kandungnya Syech Maulana Ibrahim Asmoro Qodhi yang kelak lebih populer disebut Sunan Gresik.

‎Tuban adalah rumah terakhir bagi Sunan Bejagung,  untuk berdakwah menyebarkan Islam di Kadipaten (sekarang kabupaten) Tuban dari ayahandanya Syech Jumadil Kubra setelah kejayaan kerajaan Pasai runtuh.

Dan di bumi Tuban itu pula jasad nya disemayamkan, sehingga bumi kabupaten ini kondang dengan sebutan Bumi Wali. Maulana Ibrahim Asmoro Qodhi (Sunan Gesik) makamnya ada  di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang,yang letaknya yaitu  5 km arah timur kotaTuban. Sementara Syech Asy’ari dimakamkan di tlatah Bejagung, tempat dia berdakwah dengan  kelembutan dan kebersahajaan. 

Dibalik Karomah Sunan Bejagung

Penyebaran Agama Islam oleh  Sunan Bejagung. di kabupaten Tuban juga berperan seorang ulama yang bernama Syekh Abdullah As’ari (Sunan Bejagung Lor). Syekh Abdullah As’ari mempunyai visi misi untuk memperkenalkan agama Islam ke tanah Jawa dari ayahandanya yang bernama Syekh Maulana Ibrahim Asmara bin Sayyid Jamaludin Al Khusaini Al Kubra atau terkenal dengan panggilan Syekh Jumadil Kubra.

‎Setelah kerajaan Pasai meredup di abad ke-14 Masehi, empat orang ulama besar melakukan siar agama Islam ke tanah Jawa. Ia adalah Syekh Abdullah As’ari. Yang tetap di Tuban untuk tinggal dan menyebarkan Agama Islam hingga beliau wafat. Hingga  di makamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. 1 km ke arah selatan dari pusat kota Tuban.

Semasa dakwah nya Sunan Bejagung di Tuban, banyak situs-situs bersejarah, peningalan Sunan Bejagung Lor. Hingga kini masih terawat. Salah satunya adalah adalah masjid tua yang berada di komplek makam bagian depan.

Bagian tempat imam masjid dan ruang tengah masjid adalah bangunan asli sejak Masjid Agung Sunan Bejagung Lor, bangunan ini dibuat tahun 1314 Masehi. Masjid ini juga  sangat keramat, karena biasanya masjid ini sering digunakan untuk melakukan sumpah pocong. ‎

Lalu, ada peninggalan sejarah yang berbentuk dua Cungkup Penadzaran yang ada di tengah jalan setapak menuju makam Sunan Bejagung Lor. Cungkup sering dimanfaatkan oleh warga sekitar atau peziarah untuk mewujudkan nadzarnya. Yaitu  berupa penyembelihan kambing atau lembu di san. Untuk sarana sedekah kepada sesama umat manusia.

Bila menjalankan penadzaran di cungkup itu, maka para penadzar hanya memberikan bumbu dapur lengkap, beras untuk tumpeng, dan hewan yang disembelih. Semua proses dilaksanakan oleh pembantu juru kunci yang disebut mrebot mulai dari menyembelih, memasak, hingga memanggil warga sekitar untuk kenduren di tempat tersebut.

‎Proses penadzaran dilaksanakan disana, sebab jika prosesnya dilakukan di tempat lain,dikhawatirkan darah dan tulang hewan yang disembelih bisa berantakan dimana mana. Di cungkup itu penyembelihan dan memasak hewan nadzar dilakukan, maka para Mrebot siap untuk mengelola dan mengumpulkan segala sisa-sisa upacara penadzaran, dijadikan satu, lalu dikubur di sekitar kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor.

‎Sebagai wujud hormat kepada penadzar, terhadap petuah Sunan Bejagung Lor dan para penadzar, maka masyarakat diwujudkan dengan tidak menjual nasi di sekitar Padepokan Sunan Bejagung Lor.Hingga kini, masyarakat Bejagung dan sekitarnya masih percaya, dan petuah itu sangat melekat. Hal itu terbukti tidak ada kedai warung nasi di sekitar makam Sunan Bejagung. Baik di makam Sunan Bejagung Lor.‎

Makam Sunan Bejagung

Makam Sunan Bejagung terletak di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding. Sebuah tanah perdikan yang kering dan juga berbatu yang ada di wilayah Kabupaten Tuban. Dari pusat kota yang disebut sebagai  Bumi Ronggolawe yang memiliki jarak sekitar satu kilometer arah selatan, atau berada di satu jalur dengan objek wisata pemandian Bektiharjo.

‎Situs wisata religi ini sangat dipercaya dan keramat orang, karena Sunan Bejagung dikenal sebagai penyulut pelita dan muadzin di Masjidil Haram. Hanya Sunan Bejagung yang dapat menjalankan tugas itu. Dan,sangat luar biasa, saat waktu manjing (masuk) shalat isya’ tiba, Sunan Bejagung telah berada berada di tengah ratusan santrinya menjadi imam shalat.

Padepokan Sunan Bejagung Lor yang sekarang jadi kompleks pemakaman Sunan Bejagung Lor, dibuat dengan bangunan gapura yang kecil, rendah, dan sempit memperikan pesan agar seluruh santrinya untuk selalu menunduk. Yang dimaksudkan agar selalu sopan berperilaku, kesantunan dalam berbahasa, tawaduk, dan mawas diri.

‎Di sebelah Selatan makam Sunan Bejagung Lor ada peninggalan yang juga dikeramatkan.. Salah satu memiliki estetis dengan situs-situs lainnya. Situs yang  berada di sebelah selatan makam Sunan Bejagung Lor tersebut adalah sumur Wali yang sudah ada sejak ribuan tahun. Yang memiliki kedalaman 40 meter. Banyak masyarakat dan peziarah yang mengambil air dari sumur ini. Selain itu sumur ini tidak pernah kering.

‎Demikianlah Riwayat dan biografi dari Sunan Bejagung, semua kebaikannya dan juga ilmu nya bisa menjadikan teladan bagi kita semua umat manusia. semoga artikel ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam kehidupan, dan semakin bertaqwa.

Posting Komentar untuk "Riwayat Sejarah Sunan Bejagung‎"

Berlangganan via Email