Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sejarah Kehidupan Sunan Kalijaga dan Syeh Siti jenar

Daftar Isi [Tampil]

Aldanpost.comSejarah Kehidupan Sunan Kalijaga dan Syeh Siti jenar-Kamu pasti sering mendengar kata sunan kali jaga, hari ini kita ikut bekerja untuk . Hal apa saya yang harus disiapkan untuk Tugas hari ini. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 M, Ia memiliki nama asli  Raden Said. Ada juga nama lain dari Sunan Kalijaga diantaranya yaitu Syekh Malaya dan Pangeran Tuban.

Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak dan memiliki 3 anak yang bernama Raden Umar Said atau Sunan Muria, Dewi Sofiah, dan Dewi Rakayuh. Ia merupakan Ayah dari Sunan Muria, dan kakak ipar dari Sunan Giri yaitu adalah adik dari Dewi Saroh. Ia dipercaya memiliki silsilah  dan mengalir darah Arab dalam dirinya.

Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga

Asal Mula nama Sunan Kalijaga

Nama “kalijaga”  didapat dari kata  “kali” yang artinya “sungai” dan kata “jaga” yang artinya menjaga, jadi “kalijaga” artinya menjaga sungai. Hal ini bermula dari sang guru, Sunan Bonang yang meminta Sunan Kalijaga untuk semedi dan menjaga tongkatnya yang ditancapkan di sebuah sungai hingga Sunan Bonang datang. Semedi dilakukannya selama 3 tahun. Sejak itulah itulah Ia disebut Sunan Kalijaga. Dari semedinya Ia memperoleh banyak pelajaran dari Guru tentang kehidupan, agama dan dakwah.

Sunan Kalijaga sebelum menjadi Ulama, Ia memang  terkenal sangat bijaksana dan tenang. Ia adalah seorang perampok spesialis mencuri hasil bumi. Sejak remaja Ia sangat jago silat dan bela diri, namun digunakan untuk merampok, bertarung dan menganiaya orang. Karena hal ini, maka Ia diusir oleh keluarganya. Kemudian Ia pun tinggal di Hutan Jatisari.

Tak jera diusir oleh keluarganya, ia tetap hidup sebagai perampok dan begal. Terkadang Ia pun  mencuri hasil panennya di lumbung, atau mendatangi orang-orang kaya. Namun hasil rampokannya selalu ia bagikan untuk orang miskin yang membutuhkannya.

Suatu ketika, Sunan Kalijaga ingin ikut memperebutkan tongkat Sunan Bonang yang tak sengaja ditemui di sebuah hutan. Tongkat Sunan Bonang yang terbuat dari emas langsung membuat mata Sunan Kalijaga silau yang ingin mendapatkannya untuk  dijual dan uangnya akan dibagi-bagikan kepada rakyat miskin.

Sunan Bonang mempertahankan tongkatnya sambil  menyadarkan Sunan Kalijaga atas semua perbuatannya, sehingga kemudian Sunan Kalijaga menjadi murid Sunan Bonang.

Cara Berdakwah Sunan Kalijaga

Setelah semedi, Ia mulai berdakwa dengan  menggunakan media seni sebagai pelengkap dakwahnya agar lebih mudah penyampaiannya yaitu lewat seni musik gamelan, seni wayang kulit, seni suara, dan seni ukir. Ia menyebar agam islam dengan dakwah  di sekitar wilayah desa pamanukan, Cirebon, dan sekitarnya.

Wayang kulit   menjadi sarananya dalam berdakwah. Sehingga Sunan Kalijaga mendapat julukan dalang dari berbagai daerah. Sementara makannya pun juga hebat dalam pendekatan secara sosial, yaitu pendekatan  bidang pendidikan, politik, perekonomian dengan ikut memajukan revolusi alat-alat pertanian.

Dari berdakwah banyak peninggalan bersejarah miliknya seperti wayang, gamelang, tombak keris dan lain sebagainya.

Kisah Wafatnya Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah wali yang memiliki usia paling panjang, yaitu tepatnya 131 tahun. Ia  tutup usia dalam keadaan jihad, karena sedang menjalankan tugas dalam mengajarkan agama Islam.

Ia sangat bahagia dan senag hati dalam berdakwah melalui wayang kulit yang dapat menarik masyarakat masuk islam, hal inilah yang membuat hidupnya awet dan jauh dari sakit. Menariknya untuk menyaksikan pertunjukannya, Ia tidak mengharuskan penonton membayar  tiketnya,namun harus melafalkan dua kalimat syahadat.

Makam

Lokasi makam Sunan Kalijaga adalah di Demak, tepatnya Desa Kadilangu. Kota ini menjadi salah satu tempat wisata religi yang membuat banyak peziarah ke makamnya untuk berdoa dan mendapatkan karomah yang berupa ilmu-ilmu Sunan yang sangat luar biasa.

Riwayat Kehidupan Syeh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar mempunyai nama asli Raden Abdul Jalil , ia terkenal sebagai Sunan Jepara,. Ia merupakan tokoh yang dianggap sebagai sufi  dan salah seorang penyebar agama islam di Pulau jawa, terutama di Kabupaten jepara.

Cerita mengenai kematiannya dan juga makamnya tidak diketahui pasti, karena banyak versi yang simpang siur mengenai dirinya hingga menutup mata. Lebih menarik dari Sunan Kalijaga.

Ajaran Syeh Siti Jenar

Ajarannya yang terkenal yaitu  Manunggaling Kawula Gusti (yaitu bahasa jawa dari wahdatul wujud). Ada yang mengangap bahwa ajarannya itu sesat oleh sebagian umat islam namun ada pula yang setuju dengan ajarannya tersebut. Ajaran lainnya tertuang pula pada  karya sastra yang disebut Pupuh yang dikarangnya sendiri, yang mengandung budi pekerti.

Ajaran cara hidup sufi Syekh Siti Jenar dibilang berlawanan dengan ajaran Walisongo. Perbedannya terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh wali songo atau sunan kalijaga.

Syaikh Siti Jenar adalah masih keturunan Rasulullah SAW. Ia menyebarkan agam islam di daerah jepara maka ia mendapat gelas Sunan Jepara, Ia tinggal di Dusun Lemah Abang, Kecamatan Keling.  

Ajarannya mengenai hidup dan mati sungguh kontroversial, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat itu. Syekh Siti Jenar percaya jika hidup manusia di dunia adalah kematian. Sedangkan kematian baginya , yaitu awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya.Sunan Bonang mempertahankan tongkatnya sambil  menyadarkan Sunan Kalijaga atas semua perbuatannya, sehingga kemudian Sunan Kalijaga menjadi murid Sunan Bonang. menolak hal tersebut.

 

Kehidupan Syeh Siti Jenar

Ia pernah bersekolah di Persia dan tinggal di Baghdad selama 17 tahun. Ia belajar dengan mullah Syiah Muntadhar (Syiah Imamiyah) dan mempelajari banyak pengetahuan agama. Ia sangat berminat mempelajari ilmu tasawuf dan berusaha mendalaminya.

Kehidupannya yang telah mendapat banyak pengaruh dari ilmu Bagdad membuatnya menyatakan pandang pandangannya yang kontroversial. Hingga suatu waktu ada sejarah yang menyatakan bawha Syeh Siti Jenar harus dihukum mati. Sunan Kalijaga pun terkejut karena akan dimutilasi mayat pria tersebut.

Cerita awal kematiannya yaitu, saat  Prabu Satmata memanggil delapan wali untuk datang, di istana Argapura. Mereka menyampaikan pandangan masing-masing, hingga giliran Syeh Siti Jenar berkata penggalan kalimat yang membuat , semua orang berfikiran, Ia adalah orang pengikut aliran qadariyah menyamakan Allah dengan dirinya , serta pemahaman yang sesat.

Syeh Siti Jenar berkata bahwa biar jauh adalah benar dan yang dekat belum tentu benar.Itulah pembelaannya, karena Prabu Satmata hendak menghukumnya mati karena hal ini supaya prinsip ajaran Syeh Siti Jenar yang salah jangan sampai tersebar, Sunan Kalijaga menyetujui hal itu.

Pertemuan kedua diadakan untuk menghakimi tindakan Syeh Siti Jenar.  Yang akhirnya ia harus dihukum mati. Begitu pula tiga orang sahabatnya yang mempercayai syeh siti jenar.  Berselang tiga hari, Prabu Satmata menyaksikan jasad Siti Jenar masih sama dengan sedia kala Ia juga dengar suara Siti Jenar mengucapkan salam dan selamat tinggal, lalu menghilang.

Ada sejarah yang menyatakan pula bahwa Ia dihukum mati bukan karena ajarannya, namun karena alasan politik.  Sunan Jepara kemudian dimakamkan di Jepara, di samping makam Sultan Hadirin dan Ratu kalinyamat. Sama dengan Sunan Kalijaga, iya sangat bertanggung jawab dan mau menolong sesama.

Salah satu murid didikannya yaitu Joko tinggir yang berperan dalam penyelesaian konflik antara proyek besar Negara Islam di Bintoro dan Glagah Wangi. Hal ini membuat nama Raden Abdul Jalil yang harum kembali.

Demikianlah biografi kisah kehidupan Sunan Kalijaga dan  Syeh Siti Jenar, semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Sejarah Kehidupan Sunan Kalijaga dan Syeh Siti jenar"

Berlangganan via Email