Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Sunan Ampel Singkat, Mulai Dari Asal Usul Hingga Dakwahnya

Daftar Isi [Tampil]

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar nama Sunan Ampel? Anda pasti ingat pada walisongo. Ya, Sunan Ampel merupakan salah satu di antara walisongo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, tepatnya di tanah Jawa. Beliau menyebarkan agama Islam di Surabaya, Jawa Timur. Sejarah Sunan Ampel singkat akan dipaparkan dalam artikel ini.

Sejarah Sunan Ampel singkat

Istri dan Anak Sunan Ampel

Sunan Ampel mempunyai dua orang istri. Istri pertama beliau adalah Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi. Dari istri pertama Sunan Ampel memiliki lima orang anak, di antaranya:

  1. Maulana Mahdum Ibrahim / Raden Mahdum Ibrahim atau Sunan Bonang
  2. Syarifuddin / Raden Qasim atau Sunan Derajat
  3. Siti Syari'ah / Nyai Ageng Maloka atau Nyai Ageng Manyuran
  4. Siti Muthmainnah
  5. Siti Hafsah

Sedangkan istri kedua beliau bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Dengan istri keduanya Sunan Ampel memiliki enam orang anak. Adapun anak-anak beliau di antaranya:

  1. Dewi Murtasiyah yaitu istri dari Sunan Giri
  2. Dewi Murtasimah / Asyiqah yaitu istri Raden Fattah
  3. Raden Husamuddin atau Sunan Lamongan
  4. Raden Zainal Abidin atau Sunan Demak
  5. Pangeran Tumapel
  6. Raden Faqih atau Sunan Ampel 2

Sunan Ampel Keturunan Bangsawan

Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Muhammad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat. Sunan Ampel merupakan anak dari Maulana Malik Ibrahim atau Malik Maghribi atau juga yang dikenal dengan Sunan Gresik. Sunan Ampel lahir di Champa, Kamboja sekitar tahun 1401.

Sunan Ampel sendiri merupakan keponakan dari Raja Majapahit yang dipimpin oleh Raja Brawijawa. Kakak sulung ibu beliau adalah Dewi Sasmitraputri yang merupakan seorang permaisuri Prabu Kertawijawa atau Brawijaya. Dengan demikian, Sunan Ampel tergolong dalam keturunan bangsawan.

Tahun 1443, bersama Ali Musada (Ali Murtadho) yang merupakan saudara tuanya dan sepupunya Raden Burereh datang ke Jawa. Kemudian mereka menetap di Tuban. Setelah beliau menetap di Tuban, kemudian berangkat menuju Kerajaan Majapahit dan menemui bibinya Dewi Sasmitraputri.

Kerajaan Majapahit saat itu sedang dalam masa-masa suram. Para adipati serta pembesar kerajaan melupakan tugasnya sebagai pemimpin. Mereka lebih mengutamakan berpesta dan hidup bermewah-mewah. Untuk itulah Sunan Ampel datang ke sana untuk menyampaikan ajaran agama Islam.

Kondisi kerajaan yang carut marut tersebut membuat Prabu Brawijaya merasa sedih. Prabu Brawijaya mengundang Sunan Ampel untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi di Kerajaan Majapahit.

Falsafah Moh Limo Sunan Ampel

Sunan Ampel menjalankan tugasnya di Kerajaan Majapahit dengan kesabaran dan kewibawaan. Beliau mengatasi situasi Kerajaan tersebut dengan usaha menyadarkan dan mendidik adipati serta para bangsawan ke jalan yang benar. Setelah usaha beliau itu berhasil, selanjutnya ia pun melakukan dakwahnya di masyarakat.

Ketika Raden Rahmat tengah menyusuri desa, ia tiba di sebuah tempat yang kosong. Di tempat kosong itu, ia membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Selain itu, beliau pun membangun sebuah pesantren. Pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan agama Islam yang sangat berpengaruh bagi masyarakat di sekitarnya.

Daerah yang dikenal dengan Ampeldenta itu menjadi tempat beliau mengajarkan nilai-nilai ajaran agama Islam. Di sanalah beliau diberi kekuasaan dan kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel. Murid-murid beliau yang telah berbekal ilmu pengetahuan Islam, kemudian disebar ke berbagai daerah. Dua murid Sunan Ampel yang terkenal, yaitu Sunan Giri dan Raden Patah.

Sunan Ampel memiliki cara dakwah yang sangat singkat dan cepat. Cara dakwah beliau dikenal dengan falsafah "Moh Limo" yang selaras dengan nilai ajaran Islam. Moh Limo dalam bahasa Jawa berarti menolak melakukan lima hal. Moh Limo ini berisi lima larangan atas suatu perbuatan tercela. Adapun isi dari Moh Limo tersebut, yakni:

  • Moh Main atau tidak mau berjudi
  • Moh Ngombe atau tidak mau mabuk
  • Moh Maling atau tidak mau mencuri
  • Moh Madat atau tidak mau menghisap candu
  • Moh Madon atau tidak mau berzina

Dalam dakwahnya, beliau melakukan metode pembauran dengan masyarakat akar rumput yang merupakan titik sentral dari sasaran dakwahnya. Ketika itulah kecendekiaan serta intelektualitasnya teruji. Di tempat yang asing, Sunan Ampel sebagai pendatang dari negeri Campa berusaha beradaptasi dengan kultur sosial yang belum ia kenal.

Dengan diplomasinya yang sangat gemilang, Sunan Ampel akhirnya berhasil mensejajarkan kaum Muslim kala itu dengan kaum elite pemerintahan Majapahit. Pemerintahan Majapahit sangat menghormati hak-hak serta kewajiban umat Islam. Selain itu, tidak sedikit pula penggawa kerajaan yang akhirnya memeluk Islam sebagai jalan hidup.

Sunan Ampel Sebagai Pencetus Kesultanan Demak

Kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Sunan Ampel merupakan salah satu pencetus berdirinya Kesultanan Demak tersebut. Bahkan, Raden Patah yang merupakan salah satu muridnya diangkat menjadi Sultan Demak pertama pada tahun 1475. Beliau juga turut membantu dalam mendirikan Masjid Agung Demak. Salah satu dari empat tiang utama masjid Agung tersebut diberi nama Sunan Ampel.

Sunan Ampel dan Karomahnya

Berdasarkan yang tertulis dalam naskah-naskah kuno yang telah diterjemahkan, Sunan Ampel memiliki kesaktian yang dalam Islam disebut karomah. Adapun salah satu karomah Sunan Ampel, yaitu menghadirkan Mbah Sholeh yang telah meninggal dunia. Mbak Sholeh merupakan salah satu santri yang rajin dan taat. Sosok yang cinta kebersihan serta selalu membersihkan masjid.

Dijelaskan dalam kisahnya, bahwa Sunan Ampel merasa sedih dan gelisah ketika Mbah Sholeh meninggal. Hingga suatu ketika, beliau berucap, "Kalau saja Mbah Sholeh masih hidup, pasti masjid bersih". Tanpa disangka, ucapan Sunan Ampel tersebut menjadi nyata. Keesokan harinya para santri melihat keadaan masjid yang kembali bersih dan kinclong.

Bahkan yang membuat santri dan masyarakat kaget, sosok Mbah Sholeh kembali hadir. Saat itu masyarakat meyakini bahwa pembersih masjid itu adalah Mbah Sholeh, santri Sunan Ampel. Seiring berjalannya waktu, Mbah Sholeh pun kembali meninggal. Sunan Ampel terus mengulangi ucapannya yang mengundang kehadiran Mbah Sholeh, "kalau Mbah Sholeh masih hidup dan masjid menjadi bersih".

Ucapan yang mengundang kehadiran Mbah Sholeh di Masjid yang didirikan sejak abad ke-18 tahun 1430 tersebut diulang sebanyak sembilan kali. Makam Mbah Sholeh sendiri, ada sembilan buah di pelataran Masjid. Kehadiran Mbah Sholeh berhenti usai meninggalnya Sunan Ampel. Diperkirakan Sunan Ampel meninggal pada 1481 Masehi di Demak. Beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Di dalam cerita rakyat, terdapat dua keyakinan tentang kehadiran Mbah Sholeh. Ada yang menganggap bahwa sosok yang hadir hanyalah menyerupai Mbah Sholeh yang telah meninggal. Tetapi, banyak yang meyakini bahwa kehadiran Mbah Sholeh secara berulang kali lantaran karomah yang dimiliki Sunan Ampel.

Demikianlah sejarah Sunan Ampel singkat, mulai dari asal usul hingga dakwahnya. Sunan Ampel memiliki cara dakwah yang unik dan menarik, sehingga mudah diterima masyarakat Jawa waktu itu. Nilai-nilai Islam yang beliau ajarkan patut juga untuk kita contoh, apalagi merenungi falsafah Moh Limo beliau. Semoga sejarah singkat Sunan Ampel ini dapat menambah pengetahuan serta keimanan.

 

 

Posting Komentar untuk "Sejarah Sunan Ampel Singkat, Mulai Dari Asal Usul Hingga Dakwahnya"

Berlangganan via Email