Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Sunan Blongsong Bojonegoro dan Kesaktiannya Melawan Belanda

Daftar Isi [Tampil]

Sejarah Sunan Blongsong Bojonegoro dan Kesaktiannya Melawan Belanda! Beberapa dari kita mungkin hanya mengenal sembilan Sunan yang termasuk dalam anggota Wali Songo. Karena tempat syiar agama mereka lebih luas dan bisa dibuktikan dengan peninggalan atau sumber tertulis. Sementara itu, di beberapa daerah, kita juga kadang menjumpai makam yang dipercaya sebagai Sunan atau penyebar agama Islam kala itu.

Salah satu makam yang dipercaya sebagai makam Sunan adalah makam yang terletak di Desa Blongsong, Kecamatan Baureno, Bojonegoro. Makam ini terletak di jalan propinsi Bojonegoro-Surabaya km 27. Lalu masuk ke kanan, ke jalur poros desa (timur SMP Ahmad Yani Baureno) kurang lebih 200 meter. Makam ini masih banyak didatangi peziarah, untuk itu mari kita ulas seperti apa sejarahnya.

Sejarah Sunan Blongsong Bojonegoro

Asal Usul Sunan Blongsong

Sejarah Sunan Blongsong tidak terlepas dari kisah penjajahan Belanda di masa kerajaan Mataram Islam. Sementara beliau sendiri, menurut beberapa kesaksian dari juru kunci setempat, memiliki nama lain yakni Banu Sumitro. Sunan Blongsong atau yang lebih akrab disapa Mbah Sunan, pertama kali menginjakkan kakinya di daerah tersebut pada abad ke-16. Saat itu, desa Blongsong belum memiliki nama atau belum dikenal.

Menurut legenda dari juru kunci setempat (Ustad Muhamad Syafi’i), Sunan Blongsong adalah putra dari Sunan Kalijaga. Legenda ini diperkuat dengan kutipan buku Bunga Rampai Sejarah Bojonegoro (1527). Di situ tertulis bahwa sejarah desa Blongsong tidak terlepas dari segerombolan orang dari tlatah barat yang belum dikenal. Yang menurutnya adalah rombongan dari anak Sunan Kalijaga.

Anak yang dimaksud ini berasal dari kerajaan Mataram Islam (1588-1681), dan memiliki kedudukan sebagai adipati. Namun ia diusir dan dalam perantauannya, menyamar sebagai Banu Sumitro. Penyamaran ini tentu saja memiliki beberapa alasan. Salah satunya adalah karena konflik perebutan kekuasaan atau pewarisan tahta kerajaan. Menurut sejarah Sunan Blongsong, pada masa itu kerajaan Mataram tengah disusupi oleh pemerintah Belanda.

Pasukan Belanda membuat rakyat Mataram terpecah belah. Sebagian rakyat memilih pro Belanda, dan yang lainnya kontra atau anti Belanda (termasuk kelompok Mbah Sunan). Untuk itulah, ia bersembunyi dengan nama Banu Sumitro. Di sisi lain, Mbah Sunan juga ingin meninggalkan kehidupan kerajaan untuk bisa menyiarkan Agama Islam. Dan di desa Blongsong-lah beliau menetap hingga akhir hayatnya.

Sejarah Sunan Blongsong dan Karomahnya

Dari sebuah pelarian atau pengusiran itulah akhirnya sejarah Sunan Blongsong dimulai. Beliau menetap di daerah yang masih belum ada namanya, yang saat itu masih menganut ajaran animisme dan dinamisme. Kemudian setelah beliau menetap, beliau membangun rumah dan keluarga di sana. Bahkan, beliau juga membangun masjid untuk menyebarkan agama Islam kepada rakyat sekitar.

Lambat laun, kedatangan Mbah Sunan ini dipercaya mampu merubah tatanan perilaku masyarakat. Dari yang tadinya menganut ajaran polytheisme, kini menjadi monotheisme (percaya adanya satu Tuhan). Dan karena itulah, ia disebut sebagai Sunan (berasal dari kata Sesuhunan atau Suhun). Kata ini memiliki arti “yang dihormati”, karena telah membimbing rakyat ke jalan yang benar (ajaran Islam).

Sementara itu, sejarah Sunan Blongsong tidak berhenti di situ saja. Menurut cerita rakyat, sambil bersembunyi, beliau juga mengatur strategi untuk melawan Belanda. Dan karena itulah, beliau akhirnya termasuk sosok yang diincar penjajah. Bahkan rumah dan masjid yang pernah didirikan beliau juga dibakar oleh Belanda untuk bisa membunuhnya.

Akan tetapi, rencana pencarian dan pembunuhan oleh pasukan Belanda terhadap Mbah Sunan ini selalu gagal. Seakan-akan beliau dan pasukannya dapat menghilang atau membaur tanpa kelihatan. Untuk itulah, desa yang ditempati beliau diberi nama Blongsong. Yang memiliki arti pelindung, bungkus, atau kurungan.

Sementara itu, tempat lain yang pernah dijadikan pertempuran, dimana pasukan Belanda dibuat bingung karena tidak bisa melihat, diberi nama Bowerno. Kini daerah tersebut dikenal sebagai Baureno, yang diambil dari bahasa Jawa, “bawur” atau “berbaur”. Itulah asal usul tempat dakwah dan sejarah Sunan Blongsong, yang kemudian menjadi sebutan populernya.

Sejarah dan Kepercayaan di Makam Sunan Blongsong

Semasa hidupnya, Mbah Sunan ini pernah mendirikan istana kecilnya sendiri di daerah Blongsong, dengan bangunan masjid di bagian depannya. Namun, di saat perang, istana dan masjid kecil ini dibakar oleh Belanda. Adapun bekas istananya digunakan untuk Kantor Desa Blongsong. Sementara bekas masjidnya digunakan sebagai makam.

Pertama kali ditemukan, makam Mbah Sunan ini tidak langsung berdiri di tempatnya yang sekarang. Menurut sejarah Sunan Blongsong, makam yang asli berada di sekitar 200 meter dari bangunan yang sekarang. Tepatnya di tengah bangunan rel kereta api. Namun, karena masyarakat akan membangun rel kereta saat itu, maka tempat makamnya dipindahkan.

Menurut juru kunci setempat, saat akan dibangun rel kereta api itulah, saat pertama kali makam Mbah Sunan ditemukan. Dan saat itu pula, makam Mbah Sunan dipindahkan dan dibangunkan tempat seperti sekarang. Menurut juru kunci tersebut, dalam bangunan itu terdapat sembilan buah makam, yang merupakan makam dari rombongan ataupun keluarga Mbah Sunan. Yang mana tiga makam di antaranya berukuran kecil.

Mulai dari beliau wafat hingga dimakamkan, wilayah di sekitar daerah tersebut diberi nama desa Blongsong. Banyak keyakinan tentang makam dan sejarah Sunan Blongsong yang masih melekat di sekitar sini. Termasuk keyakinan yang masih dipercaya sampai sekarang adalah bahwa TNI maupun Polri tidak boleh mengunjungi makam. Dan jika ada yang melanggar maka yang bersangkutan akan mendapat masalah atau bencana.

Sementara itu, hingga tahun 1990-an, tempat tersebut masih dianggap sebagai tempat bertuah untuk melakukan sumpah. Jadi, saat ada masalah seperti ada orang yang dituduh atau dicurigai melakukan kejahatan, maka pembuktiannya di depan makam Mbah Sunan. Jika tuduhan itu benar maka pelaku akan mengalami perut kembung dan sampai 40 hari akhirnya meninggal.

Namun semenjak tahun 1990-an, prosesi sumpah tersebut dilarang oleh penjaga makam (Ustad Muhamad Syafi’i). Meskipun demikian, makam Mbah Sunan masih banyak didatangi peziarah. Namun dengan maksud atau tujuan untuk mendoakan. Masyarakat tidak akan lupa dengan sejarah Sunan Blongsong dan karomah yang diberikannya. Dan karena beliau pula, masyarakat desa Blongsong bisa memeluk agama Islam.

Banyak dipercaya bahwa agama Islam mulai berkembang di daerah Blongsong setelah kedatangan Mbah Sunan. Bahkan, hingga saat ini, tercatat 100 persen penduduk yang tinggal di sana beragama Islam. Untuk itulah, guna menghormati jasa beliau, maka setiap tahun selalu diadakan haul atau peringatan hari besar di daerah Blongsong.

Jadi setelah mengetahui sejarah Sunan Blongsong, maka kini bertambah pula pengetahuan kita. Dari sini kita tahu bahwa ada beberapa makam yang mungkin tidak tercatat di sejarah, namun memiliki pengaruh di wilayah tertentu. Kita sebagai masyarakat setempat, yang bertanggung jawab, tentu harus bisa merawatnya. Sementara untuk menyikapi “kepercayaan” yang melekat di sana, itu tergantung pribadi masing-masing.

Posting Komentar untuk "Sejarah Sunan Blongsong Bojonegoro dan Kesaktiannya Melawan Belanda"

Berlangganan via Email