Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Sunan Bungkul Dan Pembuat Pusaka

Daftar Isi [Tampil]

Aldanpost.com - Mbah Bungkul dan pembuat pusaka menurut ziarah wali songo, tujuan dari salah satunya dalam berziarah ke makam Sunan Ampel yang letaknya di Ngampeldenta tepatnya yaitu di Kota Surabaya Jawa Timur.

Makam Sunan Ampel yang terdapat di Surabaya, terdapat pula makam yang juga banyak dikunjungi oleh banyak sekali sejarah yaitu makam dari Sunan Bungkul.

sejarah Sunan Bungkul
 sejarah Sunan Bungkul 

Letak Makam Sunan Bungkul

Siswanto yang merupakan penjaga makam yang dipegangnya secara turun-temurun dari orang tuanya.  menjelaskan bahwa tidak ada sejarah mengenai  Sunan Mbah Bungkul. Dan yang terdapat hanyalah cerita dan juga legenda turun temurun dari nenek moyang saja.

Makam sejarah Sunan Bungkul yang terletak di Surabaya atau juga biasanya sering disebut dengan Mbah Bungkul. Untuk lokasi makam ini yaitu terletak tepat  di Taman Bungkul yang berada di tepi jalan Raya Darmo, yaitu sebuah Jalan elit yang terletak di kawasan Surabaya.

Dan akses untuk menuju ke makam tersebut berada tepat di bagian Sisi belakang Taman Bungkul. Dengan melewati jajaran warung yang seringkali juga ramai dikunjungioleh pembeli entah itu siang hari ataupun malam hari.

Ahli sejarah Belanda yaitu GH Von Faber, yang terdapat pada bukunya yang berjudul Out Soerabaia. Yang ditulisnya sejarah Sunan Bungkul, ketika zaman kolonial  yang memang sengaja tidak dikenalkan jati diri yang sebenarnya.

Entah tidak tahu apa maksudnya, dan yang jelas dalam buku tersebut tertuliskan bahwa orang akan celaka atau dalam bahasa Jawa disebut dengan kualat dan juga akandiganjar hukuman. bila  mencoba mencari tahu siapa  sebenarnya itu Mbah Bungkul. Dan, Mbah Bungkul  sekarang telah diyakini sebagai salah satu wali besar di daerah Surabaya.

Penyebar Agama Islam

Dari sejarah Sunan Bungkul yang juga termasuk penyebar agama Islam tepatnya di tanah Jawa yang ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Siswanto yang yang merupakan juru kunci dari makam tersebut, menolakadanya keberadaan harta karun yang terdapat pada makam Mbah Bungkul.

Menurut Siswanto, hanya ada peninggalan-peninggalan benda pusaka zaman dahulu pada makam dari Mbah Bungkul. Siswanto juga menjelaskan bahwa,  tidak adanya sejarah dari Mbah Bungkul ini. Dan Yang ada hanyalah cerita atau legenda yang secara turun-temurun dari nenek moyang atau juga keturunan keturunannya nya.

Memeluk Islam dan mengubah Nama

Menurut sejarah Sunan Bungkul yang mempunyai nama asli yaitu Ki Ajeng  Supo yang merupakan seorang bangsawan dari zaman kerajaan Majapahit kala itu. Setelah Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul ini memeluk Islam dan lalu mengubah namanya yaitu dengan  nama Ki Ageng Mahmudin atau Syaikh Mahmudin (1400-1481).

Mbah Bungkul ini juga merupakan salah satu penyebar agama Islam di akhir kejayaan, yaitu kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Dan Mbah Bungkul ini juga merupakan mertua dari Sunan Ampel. beberapa sumber juga menyatakan bahwa beliau juga mertua dari Raden Paku atau yang biasa dikenal dengan Sunan Giri.

Ahli dalam Membuat Benda Pusaka

Dalam sejarah Sunan Bungkul, ini juga mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Wardah. Siswanto sendiri yang merupakan juru kunci dari makam Sunan Bungkul didapatnya secara turun-temurun dari orang tuanya.

Yang mengatakan bahwa Mbah Bungkul selain menyebarkan agama Islam di daerah Jawa, juga merupakan seorang yang ahli dalam membuat pustaka zamannya Brawijaya V. Usianya yang mencapai 3 abad atau 300 tahun ini membuat Mbah Bungkul ini memiliki banyak sekali murid. Dibungkus sendiri juga biasa dikenal dengan susuhunan Sunan Bungkul.

Ki Ageng Seorang Pejabat Kerajaan

Ki Ageng Mahmudin atau di kenal dalam sejarah Sunan Bungkul ini dulunya yaitu seorang pejabat Kerajaan Majapahit, yang setingkat dengan Tumenggung. Ki Ageng Mahmudin juga oleh raja Majapahit, Brawijaya, untuk menemani putra mahkota yang tidak ingin sekali menggantikannya sebagai raja.

Karena lebih tertarik dan juga ingin mempelajari ilmu agama, dia juga sekali berguru kepada Sunan Bejagung yang tempatnya di Tuban. Ki Ageng Mahmudin yang merupakan pertama kota dan juga Tumenggung belajar agama dan menjadi santri dari Sunan bejagung.

Yang mempunyai nama asli yakni Syaikh Abdullah Asy’ari yang tidak lain merupakan adik dari Syaikh Maulana Ibrahim Asmoroqondhi. Yaitu merupakan ayah dari Sunan Ampel dan juga kakek dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Hal tersebut merupakan sejarah Sunan Bungkul yang dulu juga pernah berguru kepada salah satu guru.

Dan kemudian, putra mahkota Majapahit tersebut diambil alih oleh Sunan Bejagung. Yaitu makamnya yang terletak di desa bejagung tepatnya di Tuban dan juga lebih dikenal dengan sebutan makam Sunan bejagung Kidul. Kidul yang berarti Selatan dalam bahasa Jawa.

Untuk Syaikh Abdullad Asyari  atau juga sering disebut dengan sunan bejagung makamnya sering dikenal dengan makam Sunan Bejagung Lor. Kata lor menurutbahasa jawa yang berarti arahutara. Sejarah Sunan Bungkul juga menyebutkan bahwa Mbah Bungkul merupakan mertua dari Raden Paku.

Niatan Buah Delima Mbah Bungkul

Yang sering dikenal dengan sebutan Sunan Giri. setelah Raden paku secara tidak sengaja mengambil buah delima dari Kalimas. Yang tanpa diketahuinya, Mbah Bungkul ini memiliki sebuah niatan yaitu Barang siapa yang menemukan buah delima dari Kalimas itu akan ia jodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Wardah.

Sejarah Sunan Bungkul ini merupakan Prawali bukan wali. Sebelumnya Raden paku telah dijodohkan dengan putrinya Sunan Ampel yang bernama Dewi murthasiah. Akan tetapi perjodohannya dengan Dewi Wardah mendapatkan restu dari Sunan Ampel. Maka dari itu, Raden Paku pun menikahi kedua Putri tersebut pada hari yang sama pula.

Ketika itu rencananya ingin mengawinkan Sunan Giri dengan putrinya Sunan Ampel dan akhirnya didahului  oleh putrinya Mbah Agung Bungkul, lalu Sunan Giri melaksanakan akad nikah yaitu 2 kali dalam rentang waktu hanya sehari.

Pusaka Mbah Bungkul

Dalam sejarah Sunan Bungkul yang merupakan seorang spesialis pembuat benda pusaka, memiliki berbagai macam peninggalan  benda. Dan benda pusaka itulah yang hingga kini milik Mbah Bungkul diberi sebuah tanda berupa tetenger.

Jadi, untuk harta karun Mbah Bungkul yang pernah dirawat oleh orang tua juru kunci sebelumnya lalu dikubur. Nah,peninggalan berupa pusaka yang benar tersebut dan itu merupakan sebuah cerita dari lalu Tulislah ke dalam buku.

Jadi untuk sejarah Sunan Bungkul dan juga benda pusakanya itu bukanlah sebuah harta karun. Dan juga alasan mengapa benda-benda pusaka Mbah Bungkul dikuburkan karena, sesuai dengan permintaan pendahulu untuk dikubur.

Namun, tetap dikasih tetenger atau sebuah tanda. dan hingga saat ini orang lain pun juga tidak ada yang berani untuk membongkar benda pusaka yang telah dikubur disebut. Makam dari Sunan Bungkul ini merupakan sebuah bangunan cagar budaya.

Yang kisahnya belum Sahih dan masih terjadi banyak sekali kontroversi yang beredar. Karena sulitnya untuk melacak sejarah Sunan Bungkul tersebut. Kisah ini pun merupakan sebuah kisah yang yang telah umum dan beredar di masyarakat luas.

Itulah kisah dari sejarah Sunan Bungkulsemoga bermanfaat, Thank you very much.

Posting Komentar untuk "Sejarah Sunan Bungkul Dan Pembuat Pusaka"

Berlangganan via Email