Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Sunan Drajat, Kiprah dan Karomah Sang Wali

Daftar Isi [Tampil]

aldanpost - Sejarah sunan drajat bagi sebagian orang mungkin masih ada yang belum terlalu familiar. Namun, bagi masyarakat Jawa Timur, terutama daerah Lamongan pasti bukan lagi sesuatu yang baru. Sebab, nama Sunan Drajat sendiri acapkali dikaitkan dengan legenda suatu tempat di daerah tersebut.

Oleh karena itu, ia menjadi salah satu walisongo yang memiliki nama cukup populer. Tak hanya makamnya yang hampir dipastikan selalu ramai oleh para peziarah, tetapi pondok pesantren Sunan Drajat sendiri juga sangat tenar. Bukan tanpa alasan, tetapi karena jejak peninggalannya yang memang beraurakan positif.

sunan drajat

Sejarah dan Perjalanan Sunan Drajat

Bagi umat Islam mempelajari sejarah sunan drajat tentu akan terasa sangat menyenangkan. Berikut adalah kisah perjalanan Sunan Drajat di tanah Jawa yang dirangkum dari beberapa sumber:

Biografi

Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Syarifuddin atau lebih dikenal dengan Raden Qosim. Ia adalah putra kedua dari Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, setelah Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Ini berarti ia juga masih memiliki hubungan darah dengan Sunan Gresik sebagai cucu.

Sementara waktu kelahirannya sendiri belum dapat dipastikan, tetapi beberapa ulama dan peneliti memperkirakan Sunan Drajat lahir pada tahun 1470 Masehi. Menurut data biografi sejarah, sunan drajat memiliki banyak nama panggilan. Tak hanya sebagai Sunan Drajat, tetapi juga Raden Imam, Sunan Mahmud, Maulana Hasyim, dan lain-lain.

Asal Usul Nama Sunan Drajat

Sejak terlahir, Sunan Drajat sudah memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa. Oleh karena itu, di usianya yang masih kecil Sunan Drajat mampu menguasai ilmu tentang Islam dengan lebih mudah. Kemampuan ini tentu didukung dengan didikan dan bimbingan dari kedua orang tua serta gurunya.

Menurut informasi dari sejarah sunan drajat, nama tersebut diambil dari beberapa kisah. Pertama, sebagai permulaan dakwah Sunan Drajat bertugas untuk menyebarkan agama Islam di daerah Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Daerah ini berada di tengah-tengah antara Tuban dan Gresik, Jawa Timur.

Ia berhasil menguasai daerah tersebut dan membangun daerah otonomnya cukup lama, sehingga masyarakat mengenalnya sebagai Sunan Drajat. Kedua, nama Drajat berasal dari kata “derajat” yang artinya martabat, tingkatan, atau pangkat. Hal ini sesuai dengan usahanya yang mampu mengangkat derajat masyarakat setempat.

Metode Dakwah

Dalam penyampaian dakwahnya, Sunan Drajat tidak memiliki strategi atau metode tertentu. Ia lebih bersikap lebih fleksibel atau disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga Sunan Drajat dapat diterima dengan baik. Berikut beberapa metode dakwah yang ada di sejarah sunan drajat:

a. Filosofi

Seperti yang sudah disinggung di atas, Sunan Drajat memiliki kecerdasan tingkat tinggi. Oleh karena itu, ia memiliki filosofi sendiri dalam menyampaikan dakwah dan masyarakat pun meyakini hal tersebut. Salah satu filosofi sejarah sunan drajat yang masih dikenal sampai sekarang yaitu tujuh tangga jus, berikut bunyinya:

  • Memangun resep tyasing Sasoma, artinya sebuah keharusan bagi kita untuk menciptakan kebahagiaan di hati semua orang.
  • Jroning suka kudu eling lan waspada, artinya meski sedang berada dalam keadaan senang serta bahagia, kita harus selalu ingat serta waspada.
  • Laksminating subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah, artinya di dalam perjalanan dalam meraih cita-cita yang luhur, maka jangan takut terhadap segala bentuk halangan atau rintangan yang mungkin dihadapi.
  • Meper hardaning pancadriya, artinya selalu berusaha untuk menekan hawa nafsu.
  • Heneng- hening- henung, artinya di dalam keadaan terdiam akan didapatkan keheningan atau ketenangan, dan di dalam keheningan tersebut kita dapat meraih serta mencapai cita-cita luhur.
  • Mulya guna panca waktu, artinya sebuah kebahagiaan yang lahir batin akan didapatkan jika kita mengerjakan serta menunaikan shalat 5 waktu.
  • Catur piwulang, artinya berikanlah tongkat kepada orang buta atau tidak dapat melihat, berikanlah makanan pada orang kelaparan, berikanlah atau peneduh pada orang kehujanan, serta berikanlah pakaian pada orang tak berpakaian.

Catur piwulang ini merupakan salah satu ajaran di sejarah sunan drajat dalam hidup bersosialisasi. Adapun makna dari pelajaran tersebut adalah untuk senantiasa berbagi ilmu dengan orang lain yang masih belum memahami. Seperti ajakan untuk memberikan sedekah atau bantuan, ajaran tentang rasa malu atau kesusilaan, dan lain-lain.

b. Kesenian

Masyarakat daerah Drajat memiliki keunikan tersendiri, yaitu daya tarik terhadap dunia seni. Oleh karena itu, Sunan Drajat berusaha untuk menarik perhatian mereka dengan menciptakan lagu berjudul “Pangkur”. Lagu ini lebih dikenal dengan sebutan tembang Pangkur yang memiliki pesan begitu mendalam.

Tak hanya dalam sejarah sunan drajat, tembang ini juga berkembang pesat dalam dunia seni hingga sekarang. Pangkur termasuk tembang macapat yang bercerita tentang seseorang dengan masa lalu yang buruk. Dalam artian, orang tersebut siap meninggalkan keburukan itu dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

c. Terjun Langsung

Masyarakat setiap daerah memiliki karakteristik yang berlainan, termasuk daerah Paciran. Meski tidak mudah untuk membimbing mereka masuk Islam, tetapi Sunan Drajat tak pernah menyerah untuk selalu berusaha. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan untuk terjun langsung ke masyarakat. 

Karomah atau Keistimewaan

Setiap wali memiliki karomah atau keistimewaan masing-masing (tentunya atas seizin Allah SWT), begitu juga dengan Sunan Drajat. Menurut sejarah singkat sunan drajat, ia memiliki beberapa karomah, seperti:

a. Memancarkan Air

Saat sedang dalam perjalanan dakwah, Sunan Drajat beserta rombongan merasa dahaga. Mereka pun beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dan mencari sumber air untuk minum. Beberapa santri mencabut sejenis umbi hutan (wilus) untuk mengambil airnya.

Menurut sejarah sunan drajat, saat itu ia berdoa dan meminta kepada Allah untuk diberikan air. Tak lama berselang, keluarlah air dari bekas cabutan umbi santri dan memancar begitu deras. Tak hanya cukup untuk keperluan minum saja, tetapi air tersebut masih dapat dinikmati hingga saat ini. Masyarakat sekitar membuatkannya sumur dan menjadi sumur abadi.

b. Ditolong Ikan

Sejarah sunan drajat mengisahkan tentang kapal mereka yang karam karena terhantam badai di laut lepas. Sunan Drajat berusaha untuk bertahan dengan berpegangan pada dayung atau kayuh perahunya. Kemudian atas izin Allah, datanglah ikan cakalang dan cucut.

Ikan itu membiarkan Sunan Drajat untuk berpegangan pada bagian belakang tubuhnya. Setelah lama terombang-ambing di lautan, Sunan Drajat pun selamat hingga sampai daratan di sebuah desa, di pesisir Lamongan. Di sinilah, awal mula dakwah Sunan Drajat dimulai.

c. Memindahkan Masjid

Pada suatu hari, Sunan Drajat dimintai tolong oleh Sunan Sendang Dhuwur untuk memindahkan masjid dari Jepara. Masjid tersebut boleh dipindahkan dengan syarat, dalam waktu semalam tanpa meninggalkan bekas apapun di tempat semula. Lagi-lagi, atas izin Allah masjid tersebut dapat berpindah tempat dengan sempurna.

Wafat

Sesuai dengan yang tertulis di sejarah sunan drajat, ia diperkirakan meninggal pada tahun 1530 Masehi. Sunan Drajat dimakamkan di area pondok pesantren yang didirikannya di desa Drajat, Paciran, Lamongan. Pintu gapura pemakamannya berbentuk Paduraksa yang terbuat dari kayu pacak suci dengan bentuk menyerupai mahkota.

Jika ingin mempelajari dan mengetahui bukti nyata keberadaan Sunan Drajat, kalian dapat datang ke Museum Sunan Drajat. Di tempat ini sejarah sunan drajat dipampang secara nyata. Selain belajar sejarah, kalian juga dapat menikmati wisata religi.

Posting Komentar untuk " Sejarah Sunan Drajat, Kiprah dan Karomah Sang Wali"

Berlangganan via Email