Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Sunan Giri Gresik dalam Penyebaran Agama Islam Bersama Walisongo

Daftar Isi [Tampil]

Aldanpost.comSejarah Sunan Giri Gresik dalam Penyebaran Agama Islam Bersama Walisongo! Bagi umat Islam, tentu nama Sunan Giri sebagai anggota Walisongo sudah tidak asing lagi dalam menyebarkan syiar Islam di nusantara. Namun sebelum akhirnya bergabung sebagai anggota Walisongo, sunan Giri pernah ilmu di sebuah pesantren.

Pesantren tersebut juga merupakan tempat yang sama di mana Raden Patah belajar untuk memperdalam agama Islam. Sunan Giri muda, bahkan juga pernah melakukan perjalanan ke Malaka dan Pasai dengan tujuan untuk menuntut ilmu. Setelah merasa bahwa ilmunya sudah cukup, beliau akhirnya membuka pesantren di daerah desa Sidomukti, Gresik yang juga dijadikan sebagai pusat pengembangan.

Sejarah Sunan Giri
Sejarah Sunan Giri

Biografi Sunan Giri dan Perjalanannya dalam Menyebarkan Agama Islam

Sunan Giri merupakan putra dari pasangan Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu dan bukanlah menjadi satu-satunya nama yang disematkan. Dimiliki pula nama lain seperti Raden Paku, Joko Samudra, Sultan Abdul Faqih, Prabu Satmata, serta Raden Ainul Yaqin yang juga menjadi nama julukan dari Sunan Giri. Menurut sejarah Sunan Giri Gresik, ibu dari Sunan adalah seorang putri dari Prabu Menak Sembuyu.

Ketika Sunan Giri lahir, di desanya sedang terjadi wabah penyakit berbahaya. Sehingga Prabu Menak Sembuyu meminta ibu Sunan Giri untuk membuang bayinya ke Selat Bali yang akhirnya ditemukan para pelaut dan dibawa ke kota Gresik. Bayi inilah yang akhirnya diberi nama Joko Samudra alias nama kecil Sunan Giri.

Perjalanan Sunan Giri Muda

Perjalanan hidup Sunan Giri dari lahir hingga menyebarkan agama Islam tidaklah mudah, di mana ada banyak halangan yang harus dilalui. Menurut sejarah Sunan Giri Gresik, kelahiran Sunan Guru dianggap sebagai pembawa kutukan karena bersamaan dengan munculnya wajah penyakit disekitar kerajaan. Inilah salah satu alasan mengapa beliau saat masih bayi di dihanyutkan ke laut oleh sang kakek.

Ketika dihangatkan ke laut, sang ibunda tidak mengetahui hal ini. Sehingga beliau sangat terkejut saat mengetahuinya, lalu mengejar bayi yang baru saja dilahirkannya. Beliau menyusuri pantai siang dan malam sampai Dewi Sekardadu meninggal karena kelelahan dimasa pencariannya.

Namun takdir berkata lain, di mana keberadaan Sunan Giri yang dihanyutkan di laut dan terombang-ambing ombak ditemukan oleh para pelaut yang akan berdagang ke Bali. Menurut sejarah Sunan Giri Gresik, peti tersebut memancarkan cahaya berkilau layaknya kapal kecil. Hal ini membuat mereka menghampirinya karena rasa penasaran atas apa yang mereka lihat.

Saat dibuka mereka kaget melihat bayi berparas molek dan lincah yang membuat mereka merasa gembira. Akhirnya para pelaut tersebut membawa Sunan Giri kecil kembali ke Gresik untuk diberikan pada saudagar kaya, Nyai Gede Pinatih. Akhirnya, beliau diangkat anak oleh seorang saudagar kaya di Gresik tersebut hingga remaja.

Memperdalam Agama Islam

Menginjak remaja, beliau dibawa oleh ibu angkatnya ke Surabaya untuk menimba ilmu pada Raden Rahmat atau yang dikenal Sunan Ampel sebagai anggota Walisongo. Menurut sejarah Sunan Giri Gresik, tidak butuh waktu yang lama bagi Sunan Ampel sudah bisa mengenal identitas asli Sunan Giri.

Sunan Giri saat muda dikenal sebagai anak yang jenius, rajin, selalu menaati perintah gurunya, serta memiliki kelebihan dan keistimewaan. Atas dasar inilah Raden Rahmat atau Sunan Ampel mengangkat Sunan Giri muda sebagai anak angkat dan akhirnya dipersaudarakan dengan Makdum Ibrahim. Beliau kemudian dinikahkan dengan saudara perempuan Makdum Ibrahim, Dewi Murtashiyah atau putri Sunan Ampel.

Di pernikahan kedua beliau, Sunan Giri juga menikahi puteri Kyai Ageng Bungkul. Menurut sejarah Sunan Giri Gresik, Kyai Ageng Bungkul adalah seorang pembesar kota Surabaya dan masih merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit. Hingga pada akhirnya, beliau dikirim ke Pasai untuk menimba ilmu bersama Sunan Bonang.

Beliau menimba ilmu selama 3 tahun lamanya hingga akhirnya mengetahui bahwa sang ayah kandung adalah Maulana Ishaq. Setelahnya beliau mendapat perintah agar kembali ke pulau jawa untuk mengenalkan dan menyiarkan agama Islam.

Penyebaran Ajaran Islam dan Dakwah

Berdasar informasi sejarah Sunan Giri Gresik, Sunan Giri kembali dan akhirnya membangun sebuah pondok pesantren di tahun 1487. Pesantren tersebut akhirnya menjadi sebuah kerajaan kecil yang bernama Giri Kedaton, serta dijadikan tempat sebagai pengenalan agama Islam. Kala itu, beliau juga menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru dengan melalui seni dan budaya.

Termasuk di antaranya, berhasil menciptakan berbagai karya seni seperti permainan anak yang menyiratkan makna dan pesan filosofis amat mendalam. Makna di dalamnya mencerminkan ajaran Islam, begitu pula dengan karya lain seperti lagu Lir-Ilir, Cublak-Cublak Suweng, Gending Asmarandana, serta tembang Jawa Pucung.

Arti yang tersemat, yakni mengajarkan manusia supaya tidak menuruti hawa nafsu maupun keserakahan. Terutama dalam mencari harta dan kebahagiaan, serta gunakanlah hati nurani dan tetap rendah hati. Berdasar informasi sejarah Sunan Giri Gresik ini, harta dan kebahagiaan yang diperoleh bisa mengandung berkah bagi siapapun.

Sosok Sunan Giri sendiri dikenal sebagai seorang tokoh keagamaan yang mempunyai ilmu cukup luas, terutama ilmu fiqih. Menurut buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, disebutkan jika Sunan Giri mempunyai peranan penting sebagai salah satu tokoh pengembang dakwah Islam. Khususnya melalui jalur kekuasaan, perniagaan, serta melalui wadah pendidikan untuk aktivitas dakwahnya.

Sunan Giri dikenal lantaran mengembangkan sistem pendidikan berbasis pesantren dan memiliki santri dari berbagai daerah Nusantara. Di antaranya saja seperti santri dari Lombok, Kalimantan, Makasar, Sumbawa, Flores, serta Ternate, dan Tidore. Berdasar informasi sejarah Sunan Giri Gresik, pesantren yang didirikan Sunan Giri dikenal dengan nama Pesantren Luhur Malang.

Contoh Keteladanan dan Jejak Sejarah Sunan Giri

Perjalanan hidup beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa tidaklah mudah dan mendapatkan banyak halangan. Meski begitu, peran dan jasa beliau dalam menyebarkan agama Islam di Jawa sangatlah besar dan patut dicontoh. Keteladanan, kegigihan, serta tekad yang kuat senantiasa beliau ajarkan dalam mengenalkan agama Islam.

Keteladanan dan strategi juga ditunjukkan Sunan Giri dalam penyebaran agama Islam, khususnya dalam bidang politik. Beliau menjadi “Sang Propaganda Ulung”, yang mampu menaklukkan kerajaan Majapahit dan membuatnya mengakui kekuasaan Sunan Giri. Berdasar informasi sejarah Sunan Giri Gresik, beliau adalah seorang yang jenius dalam pengetahuan agama, pengetahuan umum, serta kemampuan negosiasi kepemimpinan.

Inilah salah satu alasan mengapa keberadaan Sunan Giri diakui pemerintah di bidang politik. Adanya pengakuan dan nilai Calista tersebut membuat Sunan Giri menjadi lebih mudah dalam menyebarkan dan melakukan dakwah ajaran Islam. Tentu saja keteladanan ini sangat patut kita contoh dalam kehidupan. Bahkan sampai sekarang, kita masih bisa menjumpai sejarah dari Sunan Giri.

Sejarah Sunan Giri Gresik bisa dilihat dari berdirinya bangunan beratap di atas makam Sunan Giri dari bahan kayu jati asli dan dinding panel. Bangunan ini juga sering disebut dengan nama lumber sering, serta ada pula pintu cungkup dengan ukiran bermotif kombinasi. Kombinasi ukiran mencerminkan budaya Hindu yang dipadukan dengan motif islami berupa bentuk tumbuh-tumbuhan.

Posting Komentar untuk "Sejarah Sunan Giri Gresik dalam Penyebaran Agama Islam Bersama Walisongo"

Berlangganan via Email