Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Sunan Gresik, Belajar Kesederhanaan Dari Sang Pelopor

Daftar Isi [Tampil]

aldanpost - Sejarah sunan gresik berikut ini dapat dijadikan sebagai bekal dan pengetahuan tentang penyebaran Islam di Indonesia. Menurut sejumlah catatan, Sunan Gresik termasuk salah satu tokoh Islam penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Oleh karena itu, konon ia adalah orang pertama yang memperoleh gelar dengan sebutan Walisongo.

Wajar, nama Sunan Gresik tetap harum meski sudah tiada beberapa ratus tahun silam. Sebagai pelopor agama Islam, tentu ia sangat dikagumi dan disegani oleh siapa pun, termasuk para ulama dan Walisongo setelahnya. Bukan tanpa sebab, tetapi karena Sunan Gresik memang seseorang yang sangat berwibawa.

sejarah sunan gresik

Sejarah Dan Kiprah Sunan Gresik

Masih ada yang belum pernah mendengar atau membaca sejarah sunan gresik? Tenang, berikut adalah sejarah singkat mengenai Sunan Gresik yang dirangkum dari beberapa sumber:

Asal Usul

Sunan Gresik memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim yang menurut sejarah dilahirkan di daerah Samarkand, Asia Tengah. Ayahnya adalah seorang ulama besar asal Persia yang bernama Maulana Jumadil Kubro. Masyarakat percaya, keluarga ini masih memiliki memiliki nasab atau garis keturunan dengan Rasulullah SAW.

Sebelum sampai di tanah Jawa, sejarah sunan gresik mencatat bahwa ia pernah berdakwah di daerah Campa, negara Kamboja. Ia melakukan syiar agama Islam di negara ini hingga tahun 1392, bahkan menikahi seorang putri kerajaan. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai dua orang putra yang diberi nama Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha.

Cara Berdakwah

Sebelum Sunan Gresik tiba, Pulau Jawa memang sudah ada agama Islam. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sebuah batu nisan milik Fatimah binti Maimun. Namun, pada masa itu penyebaran Islam masih sangat masif, sehingga belum menyebar hingga ke luar daerah.

Pertama kali tiba, Sunan Gresik mendatangi wilayah kerajaan Majapahit yang kebetulan saat sedang mengalami krisis. Tepatnya, berada di desa Sembalo yang saat ini menjadi bagian daerah Leran, Manyar. Jika dari Gresik, desa ini berada di sekitar 9 kilometer ke arah utara. Berikut adalah strategi dakwah dalam sejarah singkat sunan gresik:

a. Lemah Lembut

Seperti yang ada di dalam Al-Quran, Islam adalah agama yang penuh cinta damai. Hal ini juga terlihat dalam sikap dan tutur kata Sunan Gresik yang senantiasa halus dan lemah lembut. Ia tidak pernah membedakan seseorang dengan orang lain dan selalu bersikap baik kepada mereka.

Oleh karena itu, sejarah sunan gresik memiliki jejak yang sangat baik dan sangat mudah berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Mungkin terdengar biasa saja, tetapi saat zaman Majapahit sikap tersebut sangatlah luar biasa. Ada yang tahu alasannya?

Sebab, saat Sunan Gresik datang, daerah tersebut masih menganut paham kasta. Jadi, perbedaan antara si kaya dan si miskin atau garis keturunan masih cukup kental di masa itu. Oleh karenanya, Sunan Gresik tidak terlalu sulit untuk masuk dan diterima di masyarakat setempat.

b. Berbaur

Penerimaan masyarakat kepada Sunan Gresik juga didukung dengan beberapa faktor lain, salah satunya yaitu bahasa. Untuk memudahkannya dalam menyatu dengan masyarakat, Sunan Gresik berusaha untuk mempelajari bahasa daerah setempat. Sikap dalam sejarah sunan gresik ini yang membantunya dalam menyampaikan dakwah dan syiar Islam.

c. Berdagang


Menurut sejarah sunan gresik, ia datang atas perintah ayahnya untuk menyebarkan agama Islam. Namun, ia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh beberapa saudara seperjuangan melalui jalur perdagangan. Untuk memperkenalkan barang dagangannya, Sunan Gresik membangun sebuah toko di daerah Romo.

Dari aktivitas inilah, Sunan Gresik belajar bahasa daerah setempat sekaligus mulai berdakwah. Tak cukup berdiam diri di warung sederhananya, Sunan Gresik juga berdagang di pelabuhan. Di sini, ia bertemu dengan lebih banyak orang, sehingga sejarah keberadaan sunan gresik mulai terkenal hingga ke kalangan bangsawan.

d. Bercocok Tanam

Tak hanya berdagang, Sunan Gresik juga mengajak masyarakat sekitar untuk bertani, memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan. Bersama-sama belajar untuk membuat saluran irigasi, membuat lahan pertanian, hingga tata cara bercocok tanam yang benar. Usaha inipun memberikan hasil yang nyata, hasil pertanian pun meningkat dengan pesat.

e. Mengobati

Tak hanya pandai dalam berdagang dan bercocok tanam, Sunan Gresik juga memiliki kemampuan dalam mengobati orang sakit. Dengan keringanan tangannya, Sunan Gresik tak pernah berat hati untuk membantu orang lain tanpa menerima upah sepeser pun.

Strategi Dakwah

Kendala utama Sunan Gresik dalam dakwahnya adalah masyarakat setempat masih banyak yang memeluk agama Hindu atau Budha. Bahkan, beberapa di antaranya malah tidak memiliki agama. Mereka menganut aliran kepercayaan animisme, sehingga tidak memercayai adanya Tuhan.

Meski demikian, sejarah sunan gresik tak ternodai dengan berbagai kendala itu. Ia tidak terang-terangan menentang apa yang sudah menjadi kepercayaan masyarakat sekitar. Sunan Gresik justru mendekati mereka dengan penuh kasih sayang mulai dari orang-orang dengan kasta rendah.

Perlahan, ia meyakinkan masyarakat bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di mata Tuhan. Hal yang menjadi perbedaan adalah tingkat ketakwaan yang berada di dalam hati manusia. Selain mengendalikan setiap aktivitas manusia, hati juga menjadi kunci kebahagiaan.

Dengan penjelasan tersebut, masyarakat yang berasal dari kasta sudra dan waisya pun merasa lega. Mereka seolah mendapat titik terang dan diakui sebagai manusia biasa yang memiliki hak sama di dunia. Oleh karena itu, mereka kemudian berbondong-bondong untuk menyatakan keislamannya.

Hubungan dengan Kerajaan Majapahit

Usaha yang Sunan Gresik jalani mulai membuahkan hasil di tahun kedua. Ketenarannya di kalangan bangsawan membuat nama Sunan Gresik terdengar hingga ke lingkungan kerajaan Majapahit. Jika menurut catatan sejarah sunan gresik, saat itu Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya.

Setelah mendengar kabar bahwa sang raja bersedia menerimanya, Sunan Gresik pun pergi ke pusat kota yang berada di daerah Trowulan. Meski raja Majapahit tidak memeluk Islam, tetapi ia menghadiahi Sunan Gresik dengan sebidang tanah yang kini dikenal sebagai kampung Gapura.

Sejarah sunan gresik menyebutkan ada sebuah pesantren yang dibangun di atas tanah pemberian sang raja itu. Di dalam pesantren ini, Sunan Gresik menyiarkan agama Islam secara lebih mendalam, sekaligus mempersiapkan generasi penerusnya.

Wafat

Tertulis di sejarah sunan gresik, jika ia meninggal pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 882 Hijriah atau 1419 Masehi. Ia dimakamkan di desa Gapurosukolilo yang konon dulu adalah pesantren pertama Sunan Gresik. Jika dari alun-alun kota Gresik, kompleks pemakamannya berjarak sekitar 800 meter atau 3 menit dengan berkendara.

Area pemakaman tersebut tidaklah luas, hanya berupa pendopo sederhana yang dibatasi dengan pagar. Ada dua ruangan di tempat ini, satu adalah makam Sunan Gresik, sementara satunya lagi makam para ulama yang lain. Kesederhanaan ini seolah menjadi cerminan Sunan Gresik semasa hidupnya.

Demikian sedikit ulasan mengenai sejarah sunan gresik. Dari sedikit kisah di atas kita dapat mempelajari, bahwa tidak ada umat manusia yang berbeda. Semua sama, tergantung pada amal dan perbuatan yang dilakukan selama di dunia. Oleh karena itu, jangan pernah membedakan orang lain hanya karena urusan dunia.

Posting Komentar untuk " Sejarah Sunan Gresik, Belajar Kesederhanaan Dari Sang Pelopor"

Berlangganan via Email