Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hubungan Agama Islam Dan Budaya Yang Saling Berkesinambungan

Daftar Isi [Tampil]

aldanpost - Hubungan Agama Islam Dan Budaya Yang Saling Berkesinambungan-Sejarah perkembangan agama Islam di Indonesia tidak bisa lepas dari budaya di Indonesia. Karena berdasarkan sejarah Islam, bahwa para Wali Songo maupun ulama terdahulu menyebarkan agama Isam dengan membaur di antara masyarakat.

Oleh karenanya agama Isam dapat diterima dengan baik oleh msyarakat. Berkat metode tersebut, dalam penyebarannya, agama Islam juga dikenal menjadi agama yang tanpa pemaksaan. Banyak peninggalan kebudayaan Islam yang masih ada hingga saat ini. Yang mana kebudayaan tersebut harus dijaga dan dilestarikan. simak juga tentang kebutuhan manusia terhadap agama

agama Islam dan budaya
agama Islam dan budaya

Sejarah Agama Islam Dan Budaya Hindu Budha

Sejarah perkembangan agama Islam dan budaya Hindu Budha sangat berkaitan dengan erat. Pada zaman dahulu agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah agama Hindu dan Budha. Oleh karenanya para ulama berpikir bagaima caranya agar bisa mengenalkan ajaran Islam secara damai tanpa paksaan.

Upacara Mengenang Orang Yang Meninggal

Ketika para Wali Sanga dahulu menyebarkan Agama Islam, mereka berupaya melebur dengan masyarakat. Salah satunya yaitu dengan mulai memasukkan ajaran agama Islam pada acara mengenang orang meninggal. Masyarakat yang beragama Hindu Budha mengenang orang yang sudah meninggal ketika hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 hari.

Biasanya mereka membuat kenduri lengkap dengan sesajen. Namun para ulama akhirnya meleburkan ajaran agama Islam dan budaya Hindu Budha dengan mengganti mantra-mantra dengan membaca ayat-ayat Allah. Maka terciptalah acara Yasinan dan Tahlilan yang masih dipakai hingga saat ini.

Tradisi Ziarah Kubur Dalam Agama Islam Dan Budaya Hindu Budha

Masyarakat Hindu budha memiliki tradisi dengan bertapa di makam-makam para Raja atau leluhur mereka. Mereka menganggap akan mendapatkan ilmu mandra guna dan kesaktian dengan menyembah makam tersebut. Kemudia para ulama mengganti hal tersebut dengan amalan lain, yaitu melakukan ziarah kubur ini untuk menggantinya.

Ajaran Agama Islam dan budaya Hindu Budha ini diganti dengan berziarah ke makam para alim ulama dengan mendoakan mereka. Mengharap keberkahan lantaran doa yang dipanjatkan. Tradisi ziarah kubur ini masih dipakai hingga zaman sekarang

Peninggalan Agama Islam Dan Budaya Hindu Budha

Selain berkaitan dengan ajaran ayat Al Quran, terdapat juga peninggalan ajaran Islam yang berakaitan erat dengan budaya Hindu Budha. Contohnya adalah tembang-tembang macapat yang diciptakan oleh para wali. Misalnya adalah Tembang Sinom dan Tembang Kinanti, kedua lagu ini adalah lagu nina boboknya orang Jawa.

Pada zaman dahulu mereka gemar menyanyikan kidung-kidung, oleh karenanya para Wali mencoba melebur agama Islam dan budaya tersebut. Salah satunya yaitu dengan membuat kidung yang isinya tentu berisi ajaran Islam atau sholawat nabi. Selain tembang macapat ada juga peninggalan pertunjukan wayang Islam.

Pendekatan Agama Islam Dengan Budaya Jawa

Pulau jawa merupakan pulau yang paling banyak penduduknya. Pendekatan yang dilakukan para ulama dalam menyebarkan islam di Jawa tentu saja melalui budaya Jawa juga. Contoh dari pendekatan yang dilakukan dan masih ada sampai sekarang ini adalah sebagai berikut.

Agama Islam Dan Budaya Jawa Dalam Tradisi Kehamilan

  • Upacara Ngapati

Orang Jawa mempunyai kebudayaan unik ketika seseorang sedang mengandung. Yang pertama adalah upacara Ngapati, upacara ini dilakukan masyarakat Jawa ketika umur kehamilan empat bulan. Biasaya mereka akan membuat tumpeng beserta uba rampe yang berjumlah empat. Para ulama menggabungkan agama Islam dan budaya Jawa tersebut.

Disebutkan dalam sebuah hadist, bahwa setiap empat puluh hari janin mengalami proses perubahan. Pada bulan ke empat saat empat puluh hari pertama itulah Malaikat atas perintah Allah meniupkan ruh ke janin tersebut. Tertulislah amal, celaka, rizki dan ajal, berdasarkan hal tersebut maka para orang tua dianjurkan untuk berdoa segala kebaikan untuk para bayi mereka.  Yang dibaca Q.S

  • Upacara Mitoni

Tradisi adat Jawa yang lain ketika saat kehamilan yaitu upacara mitoni. Agama Islam dan budaya mitoni ini juga saling berhubungan. Upacara tradisi mitoni dilakukan saat usia kehamilan menginjak tujuh bulan. Pada usia kehamilan tersebut diketahui bahwa umur kehamilan semakin menuju waktu persalinan.

Pada saat upacara mitoni ada beberapa ayat yang wajib di baca ketika prosesi, yaitu QS. Al Baqarah, QS. Al A’raf. Kemudian dilanjutkan dengan Q.S Maryam jika bayi diperkirakan perempuan dan Q.S Yusuf jika bayinya diperkirakan laki-laki. Selain pembacaan Al Quran, ada juga acara tingkeban dengan harapan proses kelahiran dapat lancar dan terhindar dari segala marabahaya.

Budaya Jawa Dalam Kelahiran Bayi Yang Berhubungan Dengan Agama Islam

  • Tradisi Upacara Sepasaran

Selain tradisi selama kehamilan, masyarakat Jawa juga memiliki tradisi yang berkaitan dengan agama Islam dan budaya ketika kelahiran bayi. Tradisi tersebut disebut dengan upacara selapanan. Tradisi upacara selapanan, merupakan upacara saat bayi menginjak umur selapan atau tiga puluh lima hari.

Hal ini dikarenakan ketika umur bayi akan bertambah menjadi tiga puluh lima hari, maka bayi akan bertambah fisik maupun akalnya. Menjelang selapan hari bayi pasti akan mudah menangis dan gelisah, maka diadakanlah upacara selapanan ini. Pada upacara selapanan, biasanya akan dibuatkan bancakan berupa nasi lengkap dengan urapan dan sambal kelapa.

Dengan perpaduan ajaran agama Islam dan budaya selapanan ini, orang tua melakukan sedekah. Bancakan dibagikan ke tetangga dengan harapan dapat menolak bala bagi bayi yaitu agar anak diberikan kelancaran dalam bertambahnya umur. Selain itu orang tua anak juga mencontohkan bayi untuk menjadi pribadi yang senang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

  • Tradisi Aqiqohan Atau Kekahan

Sedangkan aqiqah, merupakan sunah muakad bagi umat Islam. Masyarakat Jawa menyebutnya menjadi aqiqohan atau kekahan. Dalam upacara aqiqohan dilakukan pada hari ketujuh, ke empat belas, atau hari ke dua puluh satu kelahiran anak. Biasanya mereka membuat tradisi kenduri.

Para ulama kemudian menggantinya dengan sesuai tuntunan ajaran agama Islam dan budaya yang sudah ada namun yang dibaca adalah ayat-ayat Allah. Kemudian setelah acara kenduri, baru nasi dan masakan kambing dibagikan kepada tetangga.

Tiap orang tua akan menyembelih kambing sesuai jenis kelamin anak. Jika bayi yang lahir adalah lelaki, maka kambing yang dipotong yaitu dua ekor. Namun jika yang dilahirkan yaitu bayi perempuan, maka kambing yang dipotong adalah satu ekor. Tradisi aqiqohan pada masyarakat jawa, biasanya berbentuk tasyakuran dengan acara kenduri.

Masih banyak lagi ajaran agama Islam dan budaya lain yang saling berkaitan. Meskipun demikian tetap tidakmengurangi nilai asli dari ajaran Islam tersebut. Hal tersebut merupakan bukti bahwa agama Islam adalah agama yang mampu bersosialisai dengan baik dan tanpa kekerasan. Sehingga membuat banyak orang yang menganut agama Islam ini. simak juga tentang pondasi dalam beragama

Namun kendati demikian kita sebagai umat Islam mayoritas tetap harus menjunjung tinggi solidaritas antar umat beragama. Karena begitu halnya dengan para Wali maupun ulama yang selalu cinta damai dalam menyebarkan agama Islam dan budaya.

Posting Komentar untuk "Hubungan Agama Islam Dan Budaya Yang Saling Berkesinambungan"

Berlangganan via Email