Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani, Ulama Terkenal Hingga Luar Negeri Dari Indonesia

Daftar Isi [Tampil]

aldanpost - Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani, Ulama Terkenal Hingga Luar Negeri Dari Indonesia – Kisah ini menjadi paling masyhur bahkan bisa memotivasi umat Islam sampai sekarang. Syekh Nawawi merupakah salah satu ulama dari Nusantara yang berjiwa besar dalam sepanjang sejarah Islam. Banyak sekali karya beliau yang menjadi rujukan ilmu pengetahuan dan penyebarannya dari pesantren di Indonesia bahkan hingga mancanegara.

Syekh Nawawi Al-Bantani lahir tahun 1230 H tepatnya di Desa Tanara, Kota Serang, Provinsi Banten. Beliau merupakan putra dari seorang kyai bernama KH. Umar bin Arabi dan ibunya bernama Zubaydah. Didikan mereka untuk menjadikan Syekh Nawawi menjadi seorang ulama dan membawa Islam pada masa emasnya. 

kisah Syekh Nawawi Al-Bantani
kisah Syekh Nawawi Al-Bantani

Perjalanan Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Dalam Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim baik bagi laki-laki maupun perempuan. Semangat menuntut ilmu agama menjadi prioritas terbesar bagi seorang Syekh Nawawi untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang bermanfaat untuk umat. Berikut uraian kisah Syekh Nawawi Al-Bantani dalam perjalanan beliau menimba ilmu.

Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Menimba Ilmu Di Indonesia

Pendidikan agama yang ditanamkan oleh keluarga Syekh Nawawi telah menjadi penyokong terbesar bagi pendidikan tinggi Syekh Nawawi. Sewaktu kecil, Nawawi memang berbeda pada anak kecil umumnya yang masih suka untuk bermain. Namun, Syekh Nawawi sangat suka sekali untuk belajar menghafal Al-Qur’an. Syekh Nawawi beserta saudaranya, yaitu Tamin dan Ahmad diajarkan pengetahuan agama dasar oleh ayahnya.

Beberapa ilmu yang diajarkan, yaitu pengetahuan bahasa arab meliputi Nahwu dan Sharaf, Ilmu Tauhid, Fiqh, dan Tafsir. Pengetahuan dasar yang diajarkan oleh ayah mereka memberikan dorongan bagi Syekh Nawawi dan saudaranya untuk menimba ilmu lebih dalam. Mereka mulai menuntut ilmu ke berbagai pesantren di Pulau Jawa. Disinilah kisah Syekh Nawawi Al-Bantanimulai mendapatkan pengajaran ilmunya.

Tiga bersaudara ini memperoleh pendidikan di daerah Jawa Barat. Pada awalnya, mereka mendapatkan pendidikan dari seorang Ulama terkenal di Banten saat itu, yang bernama Kyai Sahal. Tanpa kenal lelah dalam menuntut ilmu, mereka pergi ke Purwakarta untuk mendapatkan pendidikan kembali kepada seorang Kyai bernama Yusuf. Baca juga Biografi KH. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah dan Pendiri Muhammadiyah.

Perjalanan Imam Nawawi Menuntut Ilmu ke Luar Negeri dan Menjadi Ulama

Kisah Syekh Imam Nawawi Al-Bantani muda yang penuh dengan ambisi dalam menjadikan ilmu sebagai tujuan utamanya dimulai. Beliau pergi ke Mekkah bersama dua saudaranya ketika berumur 15 tahun untuk menunaikan ibadah haji. Ketika haji mereka usai, Nawawi tidak melanjutkan kepergiannya untuk kembali ke Tanah Air. Beliau memutuskan untuk menetap di Mekkah untuk menimba ilmu lebih luas lagi melalui ulama-ulama besar.

Di antara naungan kiblat umat sedunia itu, Nawawi mulai belajar kepada Imam Masjid Al-Haram, salah satunya Syekh Ahmad Khatib Sambas. Guru-guru besar lain yang dijadikan sumber pendidikan, yaitu Syekh Abdul Hamid Daghestani, Ahmad Zaini Dahlan, dan Muhammad Khatib Hambali.

Perjalanan Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani dalam menuntut ilmu di Mekkah terhitung selama tiga tahun lamanya. Setelah beliau mendapatkan bekal ilmu yang cukup, beliau pun kembali ke Indonesia. Syekh Nawawi saat itu mulai mengajar di sebuah pesantren peninggalan ayahnya dengan usia yang cukup muda sekitar 21 tahun. Beliau pun mendirikan sebuah masjid di Tanara, Banten. Namun, tak lama ia pun segera kembali ke Tanah Suci.

Ada beberapa alasan yang membuat Syekh Nawawi kembali ke Tanah Suci. Suasana tanah kelahirannya saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan pengembangan ilmunya. Pada saat itu, hampir semua ulama Islam mendapatkan tekanan dari penjajah Belanda. Ditambah lagi, keadaan politik negara Indonesia yang tidak stabil. Beliau pun kembali ke Mekkah untuk yang kedua kalinya.

Daya intelektual yang tinggi pada diri Syekh Nawawi memberikan dampak besar bagi dirinya. Beliau dipercaya oleh gurunya yang bernama Syekh Ahmad Khatib Sambas untuk menggantikannya sebagai Imam Masjidil Haram. Semenjak itulah nama beliau dikenal sebagai Syekh Nawawi al-Jawi. Kehadiran murid-murid dari berbagai penjuru dunia menjadi nilai berharga bagi Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani.

Syekh Nawawi mulai memberikan pengajaran berupa halaqah (diskusi ilmiah) kepada para muridnya di Masjidil Haram. Seorang orientalis bernama Snouck Hourge pernah mengunjungi Mekkah tepatnya saat Nawawi sedang menjalankan rutinitasnya. Setiap harinya, Syekh Nawawi mengajar sejak pukul 07.30 sampai dengan 12.00 terhitung terdapat tiga perkuliahan sesuai dengan jumlah muridnya.

Dalam riwayat Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani, murid Syekh Nawawi terbilang cukup banyak yang berasal dari Indonesia, yaitu dari Banten, Kudus, dan Jombang. Maka, beliau mampu menerjemahkan kitab berbahasa Arab dengan menggunakan bahasa Sunda dan Jawa. Di antara murid beliau yaitu, KH Hasyim Asyari, KH Tubagus Bakri, KH Kholil Bangkalan, KH Asnawi dan KH Arsyad Thawil. Selain mengajar, beliau pun aktif dalam menulis buku.

Banyak hasil didikan beliau yang menjadi ulama besar di Indonesia. Salah satunya KH Hasyim Asyari, menjadi ulama sekaligus pendiri organisasi NU (Nahdatul Ulama). Terdapat pula murid beliau yang berasal dari Malaysia, yaitu Kyai Haji Dawud. Tercatat bahwa setiap tahun tak kurang muridnya berjumlah dari 200 orang. Aktivitas beliau lainnya sering mengisi seminar di beberapa Universitas, seperti Al-Azhar, Mesir.

Karya Imam Nawawi yang Terkenal Hingga Kini

Berperan aktif dalam bidang kepenulisan, menjadi salah satu kemampuan yang harus diabadikan menurut Syekh Nawawi. Beliau mencetuskan perubahan citra pesantren yang awalnya hanya berisi tradisi ceramah saja menjadi kaya dengan pengetahuan dengan adanya karya ilmiah. Karya penulisan yang tercatat dalam Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani mampu tersebar tak hanya dalam negaranya, tetapi hampir seluruh dunia Arab.

Tercatat dalam sejarah, beliau penulis yang mampu melahirkan kitab mengenai persoalan agama. Dalam Dictionary of Arabic Printed Books, terdapat 34 karya yang tertulis di dalamnya. Ada pula sebanyak 115 kitab yang berisikan mengenai bidang ilmu tauhid, fiqh, tafsir, tasawuf dan hadis. Kitab-kitab yang ditulis oleh beliau secara umumnya lebih sederhana dan ringan untuk dipahami berbagai kalangan.

Diantara hasil karangan dari karya beliau, yaitu dalam bidang Tafsir bernama Tafsir al-Munir lil Ma’alim al-Tanzil. Adapun dalam bidang Akhlak dan Tasawuf, yaitu Misbah Al-Zalam, Salalim al-Fudala, dan Bidayah al-Hidayah. Karya penulisan yang sudah sempurna punya beliau berjudul “Riyadh al-Shalihin.” Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani dalam karyanya menjadi suatu “emas” bagi pendidikan.

Karya-karya Syekh Nawawi awal cetak dan terbit di Timur Tengah. Beliau mulai mengaplikasikannya di Indonesia dan berhasil dipahami oleh berbagai kalangan karena bahasa arab disajikan dengan sederhana. Karya beliau dikaji bukan hanya di Indonesia, namun hingga ke seluruh wilayah Asia Tenggara.

Syekh Nawawi mampu menguasai lebih dalam meletakkan kedisiplinan Islam dan keluasan bahasa. Hal ini membuat karyanya menjadi disukai kalangan pelajar di daerah Jawa dan menjadi rujukan hingga saat ini. Disinilah Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani menjadi masyhur dalam sejarahnya.

Demikianlah uraian Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani yang sangat menarik dan memberi motivasi bagi kita. Bagi seorang pelajar, menuntut ilmu dan meneladani perilaku Syekh Nawawi bisa menjadi hal pendorong untuk lebih baik. Syekh Nawawi meninggalkan ratusan karya yang berharga dan wafat pada tahun 1314 H di usia 84 tahun.

 

Posting Komentar untuk "Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani, Ulama Terkenal Hingga Luar Negeri Dari Indonesia"

Berlangganan via Email