Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Gus Miek, Kiai Besar yang Dikenal Seantero Negeri

aldanpost - Mengenal Gus Miek, Kiai Besar yang Dikenal Seantero Negeri!  Tiap-tiap ritus agama memiliki tujuannya sendiri-sendiri. Salah satu yang sering dilakukan oleh umat muslim adalah dzikir. Dzikir dapat diartikan sebagai metode mengingat secara spiritual dengan tujuan untuk menyaksikan kehadiran Allah. Sementara itu, mengikuti majelis dzikir merupakan cara untuk bisa istiqamah. Di antara yang terkenal yakni Dzikirul Ghafilin bentukan KH. Chamim Tohari Jazuli atau Gus Miek. Berikut paparan untuk lebih mengenal lagi Kyai Gus Miek.

Gus Miek merupakan putra KH. Jazuli Utsman, salah satu murid Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Gus Miek terlahir di lingkungan pesantren Al-Falah Mojo, Kediri yang diasuh oleh ayahnya. Sejak usianya yang kesembilan tahun, ia sudah sering bertabaruk ke banyak kiai sufi. simak juga tentang Hasyim Asy’ari dan Fatwa Jihad Ulama

mengenal Gus Miek
mengenal Gus Miek

Masa Kecil Gus Miek dan Tanda Karomah Kewaliannya

Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940, di Ploso, Kediri, dari pasangan KH. Jazuli Utsman dengan Nyai Radliyah. Ayahnya merupakan murid dari Hadratus Syech yang mendirikan Hoofd Bestuur Nadlatoel Oelama atau yang kini dikenal sebagai PBNU. Sementara dari pihak ibundanya, Gus Miek merupakan keturunan ke-32 dari Imam Hasan, putra Ali bin Abi Talib dengan putri Rasulullah. Mengetahui masa kecilnya, akan lebih mengenal Gus Miek pula.

Semenjak kecil, Kiai Chamin Jazuli yang merupakan anak ke-3 dari enam bersaudara ini miliki keunikan dibanding dengan saudaranya yang lain. Gus Miek tidak banyak bicara, sebaliknya ia lebih senang menyendiri dan selalu menundukkan kepala. Sikap ini tentu kentara, terlebih ketika saudara maupun teman seusianya lebih senang jika dekat dengan ibundanya. Pun ketika seluruh keluarga sedang berkumpul, Gus Miek akan selalu memilih tempat yang paling jauh.

Meski begitu, Gus Miek yang kini dikenal karena metode dan sasaran dakwah yang berbeda dari kebanyakan ulama ini miliki kebiasaan unik sejak kecil. Hal ini tampak ketika ia Amiek—panggilan kecilnya, nyantri di PP Lirboyo Kediri pada usianya yang ke-13. Di pondok di bawah asuhan KH. Machrus Ali ini Gus Miek kecil pun tak bisa menghilangkan kebiasaan sejak masih di Ploso. Ya, ketika santri lainnya sibuk mengaji, Gus Miek kecil malah tertidur.

Masa belajar di Lirboyo tidak lama. Karena Amiek kecil pulang setelah 16 hari menyantri di sana. Kepulangannya yang mendadak ini membuat Kiai Jazuli Utsman dan Nyai Radliyah resah. Pasalnya, ia tidak mau melanjutkan belajarnya di Lirboyo Kediri lagi. Meski begitu, Gus Miek menunjukkan hasil belajarnya yang bersungguh-sungguh selama di pesantren. Ini dibuktikan dengan kesanggupannya menggantikan semua jadwal mengajarkan kitab ayahnya.

Di antara kitab yang diajarkan oleh Gus Miek kecil ketika menggantikan ayahnya yakni: dari Kitab Fatkhul Muin, Tafsir Jalalain, hingga Ihya’Ulumuddin. Kemampuan inilah yang membuat orang tua mengenal Gus Miek miliki karomah kewalian pada putra ketiganya ini. Tak berselang lama setelah itu, ia memutuskan untuk kembali belajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Sekembalinya ia ke Lirboyo, di usianya yang ketiga belas, Gus Miek melancong ke Magelang. Yakni untuk mnyantri di tempat KH. Dalhar Watucongol, dan mengunjungi beberapa kiai besar lainnya. Di antaranya yakni Mbah Jogoreso dari Gunungpring, KH Ashari dari Lempuyangan, dan KH. Arwani dari Kudus. Tak hanya itu, Gus Miek juga sowan pada Mbah Benu dari Yogyakarta, dan KH. Hamid dari Kajoran.

Mengenal Gus Miek, dan Metode Dakwahnya yang Unik

Ketika mendengar nama KH Chamim Tohari Jazuli, selain mengingatnya sebagai pendiri Majelis Dzikrul Ghafilin tentu juga akan mengingatnya karena miliki metode dakwah yang unik. Hal ini karena sasaran/medan dakwah Gus Miek berbeda dengan ulama-ulama lainnya. Ya, Gus Miek lebih memilih berdakwah di lembah hitam kemaksiatan. Yakni, mereka-mereka yang tingkah lakunya bertentangan dengan moral, dan norma kebaikan. Hanya

Inilah yang kemudian membuat orang tidak akan terkejut ketika mendapati Gus Miek keluar masuk area perjudian, diskotik, bahkan lokalisasi. Ini tentu bukan yang umum dilakukan oleh ulama lainnya, sehingga menjadi ciri khusus yang hanya didapati pada sosok besar KH. ChamimTohari Jazuli. Dalam hal ini, Gus Miek menganggap mereka sebagai anak-anak hilang yang belum mendapat pencerahan.

Sementara itu, menunggu golongan yang terjebak dalam kegelapan tersebut sadar dan mencari kaum alim untuk mendapat bimbingan agama terbilang mustahil. Karenanya, Gus Miek menempatkan santri-kiai sebagai orang yang bijaksana. Yakni orang yang mampu memahaami, membimbing, dan bukannya mengayunkan pedang untuk mengelompokkannya sebagai ahli surga dan sebaliknya. Inilah mengapa mereka-mereka ini beruntung mengenal Gus Miek.

Dalam pandangan Gus Miek, ada alasan mengapa mereka-mereka yang hidup dalam naungan perjudian, pelacuran dan kemaksiatan lainnya kebal dengan ajaran agama. Salah satunya adalah pendekatan kiai atau santri yang kurang tepat. Karena itulah, Gus Miek memosisikan dirinya sebagai “orang tua” yang mengantarkan anak-anak hilang kembali ke “rumah”-nya. Sehingga cara yang dilakukannya yakni dengan menjemput mereka di tempat-tempat “bermain”-nya.

Dengan pendekatan ini Gus Miek berhasil mengentaskan para penjudi dan bromocorah ke jalan taubat. Cara pandang yang berbeda ini membuatnya dikenal oleh masyarakat sebagai seorang alim yang lebih banyak menerjuni dunia malam. Ketimbang memberikan bimbingan pada orang yang sudah miliki kemapanan iman.

Bahkan, diceritakan suatu ketika Gus Miek masuk ke tempat hiburan bersama santrinya. Santri tersebut bertanya apakah jamaahnya kurang banyak sehingga membuatnya masuk ke tempat tersebut. Dengan sedikit emosi mendengar pertanyaan dari santri yang sudah puluhan tahun bersamanya tersebut, Gus Miek menjawab

“Biarkan saja jika nama saya tercemar di mata manusia asalkan tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Toh, paling menthok, nama saya hancur di mata umat. Semua orang yang ada di tempat hiburan (diskotik) ini pun ingin masuk surga. Bukan hanya jamaah saja. Tapi, kiai mana yang berani masuk ke sini?” Jawabnya. Cara pandang demikian ini yang tentu sudah dihafal oleh santri maupun orang yang mengenal Gus Miek secara dekat.

Jalan dakwah Gus Miek ini menjadi kontroversi tersendiri. Sehingga tidak mustahil jika para ulama lainnya pun tak habis pikir akan metode pendekatan untuk menjaring jamaah yang digunakannya. Namun, ulama lain tidak menghujatnya karena telah melihat tujuan dakwah dan keberhasilan KH. Chamim Tohari Jazuli ini mengentaskan banyak orang dari jalan maksiat.

Kisah Keseharian Gus Miek yang Tak Banyak Diketahui

Bisa dikatakan jika jangkauan dakwah Gus Miek atau KH. Chamim Tohari Jazuli cukup luas. Yakni, menyeluruh di hampir semua kota-kota besar di tanah Jawa, seperti Surabaya, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. Meski begitu, kota-kota kecil seperti Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Jember, dan Boyolali tak luput dari jangkauannya. Inilah yang membuat nama Gus Miek dikenal luas oleh masyarakat terlepas dari metode dakwahnya yang penuh kontroversi.

Meski begitu, pada dasarnya praktik dakwah Gus Miek yang paling kentara adalah mudahnya ia berbaur dengan orang lain. Termasuk orang kecil dari kalangan tukang becak bahkan penjual kopi di pinggir jalan. Gus Miek memosisikan dirinya sama seperti mereka, sehingga objeknya pun tidak menyadari hal tersebut. Meski pada akhirnya, mereka pun tahu jika yang selama ini dekat dengan mereka adalah orang penuh kehormatan yang membawanya pada pencerahan. simak juga tentang sosok Gus Miek

Sedikit paparan di atas setidaknya akan membantu mengenal Gus Miek yang selama ini dikenal sebagai waliyullah dengan metode dakwah yang penuh kontroversi. Meskipun begitu, sebenarnya, Gus Miek hanya menyasar mereka supaya tidak hanya mengejar eksistensi pada kehidupan dunia maupun akhirat saja. Melainkan mewadahi mereka yang merupakan golongan gemar dunia dan akhirat sebagaimana Abdurrahman Bin Auf.

Posting Komentar untuk "Mengenal Gus Miek, Kiai Besar yang Dikenal Seantero Negeri"

Berlangganan via Email