Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulas Biograsi Gus Miek, Sang Ulama dari Jawa Timur

aldanpost - Mengulas Biograsi Gus Miek, Sang Ulama dari Jawa Timur. Sosok Gus Miek tentu tak asing lagi di telinga masyarakat khususnya di daerah Jawa Timur. Beliau adalah sosok ulama yang tidak hanya mengajarkan ajaran Islam. Beliau juga mengajarkan bahwasanya mengajak orang lain dalam kebaikan banyak dengan berbagai cara. Tidak harus terpaku pada cara orang lain, namun bisa berinovasi.

Sosok Gus Miek banyak menceritakan penggalan kisah yang cukup unik. Betapa hidayah dari Allah dapat turun kepada orang yang dianggap remeh. Dari sinilah menjadikan instropeksi diri, jangan menganggap diri sendiri sudah menjadi orang baik. Orang yang dianggap hina, tidak menutup kemungkinan untuk berubah menjadi lebih baik. Semangat berdakwah ulama inilah yang perlu dicontoh oleh semuanya.

biografi Gus Miek
biografi Gus Miek

Sepenggal Biografi Gus Miek

Mempelajari biografi Gus Miek bertujuan untuk memberikan suntikan semangat untuk melanjutkan cita-cita bersama melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Banyak hikmah yang dapat diambil dari kehidupan sosok beliau yang penuh dengan cara unik dalam berdakwah. Berikut biografi dari seorang ulama dari Jawa Timur yang banyak menginspirasi banyak orang untuk berubah menjadi lebih baik.

Biografi Gus Miek Semasa Kecil

Gus Miek adalah anak ketiga dari enam bersaudara yang sejak kecil hidup di lingkungan pesantren. Beliau adalah salah satu putra dari pasangan K.H Djazuli Utsman dan Ibu Nyai Rodhiyah. Dari ayahnyalah yang tidak lain seorang pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, beliau belajar Islam. Sejak kecil selalu diajarkan dan dipersiapkan menjadi seorang pendakwah tangguh. Simak juga tentang kisah Mbah Kholil.

Amiek adalah nama panggilannya di masa kecil. Menurut biografi Gus Miek, sejak kecil beliau tinggal di daerah Kediri. Lebih tepatnya di lingkungan bekas kantor penghulu yang telah ditebus orang tuanya. Amiek sejak kecil terkenal dengan sosoknya yang cukup pendiam. Selain itu juga lebih suka memilih menyendiri . Tentu hal itu akan kontra tidak seperti saudara dan teman sebaya lainnya.

Memiliki suara yang merdu dan fasih dalam membaca Al Quran adalah kelebihan yang selalu menonjol pada diri Amiek sejak kecil. Secara pendidikan, beliau pada awalnya menempuh sekolahnya di Sekolah Rakyat (SR). Namun beliau kurang bersemangat dalam belajar, sehingga sekolah tersebut tidak sampai selesai karena lebih sering membolosnya saat jam sekolah.

Gus Miek sejak kecil mempelajari Al Quran dengan bimbingan ibunya, kemudian diserahkan pada Ustadz Hamzah. Di sisi lain untuk kategori belajar kitab, beliau bersama saudaranya belajar langung pada ayahnya. Hal tersebut secara tidak langsung menancap secara kuat dari kecil segala tentang ajaran agama Islam. Biografi Gus Miek inilah yang menjadikan contoh agar orang tua mau mengajarkan anaknya.

Hal unik terjadi sejak kecil pada sosok Gus Miek, diumurnya yang masih 9 tahun, beliau telah mengenal baik para ulama besar. Beberapa nama ulama besar yang biasa dikunjungi adalah K.H Mubasyir Mundzir dari Kediri. Selain itu K.H Mas’ud (Gus Ud) dari Pagerwojo, Sidoarjo dan K.H Hamid dari Pasuruan. Para ulama melihat sosok Gus Miek kecil telah melihat aura ke alimannnya kelak di masa depan.

Biorafi Gus Miek juga menceritakan peristiwa saat di rumah Gus Ud. Bertemulah dengan K.H Ahmad Siddiq yang saat itu sebagai sekretaris pribadi K.H Wahid Hasyim. Kelak K.H Ahmad Siddiq inilah yang akan menentang tradisi sufi, namun juga teman baiknnya di Dzikrul Ghofilin. Meskipun berbeda tradisi, tidak menjadikan alasan untuk saling memusuhi, justru semakin kuat dalam menjalin pertemanan.

Pendidikan Awal Gus Miek

Gus Miek pada saat umur 13 tahun melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Hal tersebut setelah K.H Mahrus Ali sendiri datang sendiri menjemput di Ploso dan menawarkan belajar di Lirboyo dibawah bimbingannya sendiri. Akhirnya beliaupun belajar di pondok pesantren Lirboyo. Namun pendidikan tersebut hanya bertahan selama 16 hari dan setelahnya lebih memilih untuk pulang ke Ploso.

Pada saat sampai di rumah, tentu orang tuanya kaget akan kepulangan Sang Putra. Di sini biografi Gus Miek juga menceritakan bahwa beliau tidak mau lagi melanjutkan belajar di Pondok Lirboyo. Padahal belajarnya masih selama 16 hari. Di sisi lain beliau menunjukan dalam waktu 16 hari, mampu maksimal untuk belajar dan menyerap ilmu dari Pondok Lirboyo.

Pembuktian kesungguhan saat belajar adalah mampu menggantikan jadwal pengajian yang biasa diisi oleh Sang Ayah di Pondok Pesantren Ploso. Saat itu Gus Miek mampu mengajarkan berbagai kitab. Kemampuan dalam mengajarkan inilah, tentu membuat kagum kedua orang tuanya. Sejak kejadian itu, orang tua mulai menyadari adanya karomah pada diri putranya. Sejak kecil meskipun pendiam namun pintar. 

Dalam biografi Gus Miek kitab-kitab yang berhasil diajarkan semasa remaja adalah Kitab Tahrir (Fiqih dasar), Fatkhul Mu’in (Fiqih tingkat menengah). Selain itu Jam’ul Jawami (Uslul Fiqih), Fathul Qarib (Fiqih menengah), Iqna (Penjabaran Fathul Qarib). Tidak tertinggal juga seputar kitab hadist yakni Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Beberapa yang lain juga Shaban (Tata Bahasa Arab) dan Ihya’ Ulumuddin.

Setelah menunjukan kemampuan pada orang tuanya. Justru beliau meminta kembali untuk belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah kembalinya belajar kembali, beliau jauh lebih serius. Di sisi lain Gus Miek juga memiliki kebiasaan unik. Setiap jam belajar, lebih memilih tidur di atas kitabnya. Namun setiap ada pertanyaan dari Sang Guru, beliau juga mampu menjawab dengan benar.

Biografi Gus Miek menceritakan semasa di Lirboyo, dekat dengan sosok Abdul Ro’uf dari Blitar dan Abdul Zaini dari Gresik. Selain itu juga dekat dengan Abdullah dari Magelang, Gus Idris, dan Gus Fatkhurrohman. Pertemuan dengan Abdullah menjadikan beliau melanjutkan belajarnya di Pondok Pesantren di Watucongol, Magelang, Jawa Tengah. Sebuah Pondok pesantren dibawah pengasuhan K.H. Dalhar.      

Dakwah Gus Miek

Gus Miek terbiasa melakukan perjalanan dakwah berhari-hari dari dalam hingga ke luar kota. Hal tersebut sebagai wujud totalitas beliau dalam berdakwah hanya mengharap balasan Allah SWT. Pernah suatu ketika memasuki bar, tempat perjudian, atau tempat maksiat lainnya hanya untuk berdakwah. Kala itu berperan seperti orang pada umumnya dari segi penampilan. Cara dakwah yang tidak seperti biasanya.

Biografi Gus Miek menceritakan keajaiban di tempat itu, ada beberapa orang di tempat maksiat itu yang mendapat hidayah setelah bertemu dengan Gus. Ketegasan dan mudah bergaul ke semua kalangan menjadikan banyak yang menyukai cara dakwahnya. Beliau membuat amalan dzikir jamaah Mujahadah, Dzikrul Ghofilin, dan Semaan Al Quran Jantiko Mantab yang kini mulai banyak jamaahnya.  

Biografi Gus Miek banyak memberikan pelajaran hidup bahwasanya harus banyak belajar dari setiap peristiwa yang telah dilalui. Semangat dalam berdakwah akan muncul seiring dengan ketaatan kepada Allah yang semakin meningkat. Untuk itu penting untuk selalu bermunajat meminta petunjuk ke jalan yang benar. Semoga ulasan biografi dari salah satu tokoh ulama Jawa Timur ini bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Mengulas Biograsi Gus Miek, Sang Ulama dari Jawa Timur"

Berlangganan via Email