Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ulama Terdepan Dalam Barisan Fikih, Inilah Sejarah Kyai Bisri Syansuri

aldanpost Ulama Terdepan Dalam Barisan Fikih, Inilah Sejarah Kyai Bisri Syansuri  Ulama ulung dalam ilmu fiqih ternama di Indonesia, penting untuk kita kenali. Beliau bernama Kyai Bisri Syansuri. Beliau lahir tepatnya di kota Pati, pada tanggal 18 September tahun 1886. Kyai Bisri Syansuri merupakan kakek dari Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang merupakan Presiden ke-4 di Republik Indonesia. Bisri adalah putra dari KH. Syansuri dan ibunya bernama Nyai Mariah.

Seluruh pemikirannya dalam bidang membuat dirinya aktif tergabung dan mendominasi dalam suatu organisasi. Saat itu, beliau terlibat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia politik Pusat (KNIP), Ketua Majelis Syuro PPP dan menjadi anggota Konstituante. Kyai Bisri turut andil dalam pendirian Jamiyah NU yang diselenggarakan pada 31 Januari 1926 di kota Surabaya. Mendalami ilmu agama dalam bidang fikih membuat dirinya menjadi pelopor dalam menuangkan ide cemerlangnya. simak juga tentang Sejarah Kyai Wahab Hasbullah

Sejarah Kyai Bisri Syansuri
Sejarah Kyai Bisri Syansuri 

Kisah Permulaan Sejarah Kyai Bisri Syansuri

Menuntut ilmu bukanlah suatu perjuangan yang mudah. Hal ini juga dibuktikan oleh Kyai Bisri yang mendedikasikan hidupnya untuk menuntut ilmu. Berikut akan diuraikan bagaimana Sejarah Kyai Bisri Syansuri ketika usia muda sampai beliau mendapatkan pencapaian terbesar selama hidupnya.

Kyai Bisri Syansuri Usia Muda

Lahir dari keturunan Kyai, membuat penanaman agama Islam dan karakter dalam diri beliau sangatlah kuat. Di usia belianya sekitar 7 tahun ia mulai mempelajari Al-Quran kepada Kyai Soleh tepat di kampung halamannya. Sedikit demi sedikit ia pun mempelajari ilmu fiqh mulai dari mendasar, beliau berguru pada Kyai Abdul Salam. Guru beliau itu ternyata seorang penghafal Al-Qur’an dan kitab-kitab bidang fiqih. Ahli dalam ilmu tasawuf, nahwu-sharaf, tafsir, dan hadis.

Seluruh ilmu yang dibagikan oleh Kyai Abdul Salam kepada Kyai Bisri membuat dirinya mempelajari konteks agama meluas. Sikap disiplin menjalankan aturan agama dalam diri gurunya pun melekat pada Kyai Bisri. Pada usia 15 tahun, ia menuntut ilmu agama di luar tanah kelahirannya. Bisri muda berguru pada Kyai unggul, yaitu KH Kholil Kasingan dan KH Syua’ib. Sungguh, ini menjadi catatan bagi Sejarah Kyai Bisri Syansuri yang tak pernah lekang waktunya untuk berilmu.

Perjalanan Sejarah Kyai Bisri Syansuri Dalam Menuntut Ilmu

Setelah berguru kepada KH Kholil Kasingan dan KH Syu’aib Sarang Lasem, ia pun berguru pada KH Kholil Bangkalan.  Di pondok pesantren milik KH Kholil itulah ia bertemu dengan Abdul Wahab Hasbullah. Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan Kyai Bisri, yang ternyata disampingnya pun merupakan kakak iparnya.

Perjalanan Sejarah Kyai Bisri Syansuri dalam mencari ilmu, tak hanya sampai itu. Kyai Bisri melanjutkan pendidikannya dan berguru kepada KH Hasyim Asyari. Saat itu, pondok pesantren ada di Tebuireng. Ia menempuh pendidikan selama 6 tahun dengan berbekal ijazah untuk pengajar kitab agama terkenal dari literatur lama. Kitab-kitab agama ini seperti kitab Fiqih Al-Zubad sampai kitab hadits lain seperti Bukhari dan Muslim.

Mendapatkan kesempatan pergi ke Mekkah dan berguru pada ulama besar adalah dambaan bagi seorang santri. Bisri mencoba mewujudkan keinginannya ke Mekkah untuk menuntut ilmu kembali. Sekitar tahun 1912 hingga 1913, Kyai Bisri memutuskan untuk mengejar pendidikan ke Mekkah bersama dengan Abdul Wahab Hasbullah. Mereka berguru pada ulama terkemuka, seperti Syekh Muhammad Sa’id Yamani, Syekh Muhammad Baqir, Syekh Jamal Maliki, dan masih banyak lagi.

Ketika menuntut ilmu di Mekkah, Kyai Bisri menikahi adik perempuan dari Abdul Wahab Hasbullah. Dan di kemudian hari, anak perempuan dari Kyai Bisri itu pun menikah dengan KH Wahid Hasyim. Keturunannya pun bernama KH Abdurrahman Wahid dan Ir. Solahuddin Wahid. Hal inilah yang menjadi catatan Sejarah Kyai Bisri Syansuri bahwa beliau adalah kakek dari Gus Dur.

Setelah pulang menuntut ilmu dari Mekkah, beliau menetap selama 2 tahun di pondok pesantren milik mertuanya yang berada di Tambak Beras. Beliau memulai hidupnya secara mandiri dan mulai mendirikan pesantren pada tahun 1917. Pondok ini bernama Ponpes Mambaul Ma’arif, berlokasi di Denanyar, kota Jombang. Dan perlu diketahui, ternyata Kyai Bisri Syansuri adalah sosok yang pertama kali mendirikan kelas untuk santri wanita di dalam pondok pesantrennya.

Langkah awal yang Kyai Bisri ini diambil agar santri wanita dapat mendapatkan ilmu yang sama. Saat itu, baru beberapa perempuan di desanya yang masuk ke dalam ponpes. Ternyata hal ini tidak mendapat pelarangan dari guru beliau. Bahkan, KH Hasyim Asyari pun mendukung atas apa yang dilakukan Kyai Bisri. Tentunya, ini menjadi hal yang menarik dalam Sejarah Kyai Bisri Syansuri.

Dedikasi Terbesar Sepanjang Perjalanan Kyai Bisri Syansuri

Sebelum NU (Nahdatul Ulama) tegak berdiri di NKRI, terbentuk cikal-bakal jamiyah besar bernama Taswirul Afkar. Komunitas ini bergerak aktif dalam bermusyawarah mengenai hukum agama. Sehingga pada tahun 1971, terdapat sidang umum bersama DPR-RI. Kyai Bisri berperan sebagai pemimpin sidang. Beliau terlibat dalam pengembangan organisasi NU, berupa pendirian rumah bagi yatim piatu serta pelayanan kesehatan di beberapa tempat.

Pada masa pemerintahan Jepang, beliau terlibat dalam urusan pertahanan negara. Beliau dipercaya menjadi Kepala Staf Markas Oelama Djawa Timur atau disingkat MODT, berada di Surabaya. Beliau banyak sekali aktivitas yang melibatkan ilmu politik, yaitu KNIP, Masyumi dan Konstituante. Dalam Sejarah Kyai Bisri Syansuri tercatat, bahwa ia menjadi anggota Dewan Konstituante pada tahun 1956-1971. Bahkan, ia pun diangkat menjadi pimpinan tertinggi NU di tahun 1972.

Di masa kepemimpinannya sebagai pimpinan tertinggi di dalam NU, orde pemerintahan baru pun mulai menguat. Tantangan terbesar yang dihadapi bahwa saat itu RUU perkawinan berada jauh dari ketentuan hukum agama. Maka, dilakukanlah perundingan sebagai upaya menyetujui RUU sebagai UU. Anggota yang terlibat dalam perundingan ini berasal dari NU dan ABRI. Terbukti bahwa pengaruh ulama begitu besar baik di dalam maupun di luar PPP.

Disinilah Sejarah Kyai Bisri Syansuri mendapatkan ide-ide cemerlang dan sangat berguna bagi masyarakat. Terbentuklah sidang dan RUU alternatif ini dirancang oleh ulama dan digerakkan oleh KH Bisri. Terdapat 10 pasal dalam RUU tersebut. Diantaranya, yang kesatu bahwa pernikahan bagi orang muslim dilakukan secara agama, bukan dengan aturan sipil. Kedua, masa iddah (jangka waktu setelah perceraian) harus dipersingkat, yang semula setahun menjadi tiga bulan.

Ketiga, adanya pernikahan setelah kehamilan diluar dari pernikahan sah, maka tidak diizinkan. Keempat, adanya pelarangan dalam tunangan. Hal ini dapat mendorong menuju perzinahan. Kelima, anak angkat tidak dapat memiliki hak yang setara dengan anak kandung. Keenam, penghapusan pasal bahwa perbedaan agama bukanlah tolak ukur dalam perkawinan. Ketujuh, batas usia ideal untuk menikah adalah 16 tahun.

Lalu yang kedelapan, terdapat penghapusan pasal pembagian rata harta milik bersama antara wanita dan pria yang sudah menikah. Kesembilan, adanya penolakan perkawinan antara dua orang memiliki hubungan anak angkat atau orang tua angkat. Kesepuluh, organisasi NU melakukan penolakan terhadap suami istri yang baru bercerai untuk melangsungkan perkawinan lagi. simak juga tentang sejarah Kyai Maimun Zubair

Itulah ulasan mengenai Sejarah Kyai Bisri Syansuri. Ulama ahli fiqih yang mampu memberikan ide-ide serta mempelopori berbagai hal yang baik untuk masyarakat, terutama muslim. Sifat beliau yang terus semangat menuntut ilmu patut untuk kita tiru. Kyai Bisri wafat pada tanggal 25 April 1980 di usianya menginjak 93 tahun.

 

Posting Komentar untuk "Ulama Terdepan Dalam Barisan Fikih, Inilah Sejarah Kyai Bisri Syansuri"

Berlangganan via Email