Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peninggalan Sunan Drajat, Kisah yang Menarik untuk Disimak!

aldanpost - Bagi yang beragama Islam istilah Wali Songo bukanlah hal yang asing lagi. Apalagi mendengar nama salah satu Wali Songo yaitu Sunan Drajat. Begitu pula dengan hasil peninggalan Sunan Drajat yang sejatinya bisa dijadikan sebagai pelajaran dan menambah wawasan bagi kita semua. 

Sunan Drajat juga sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa khususnya di daerah Lamongan. Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel yang dikenal sebagai Wali yang memiliki kecerdasan serta jiwa sosial yang tinggi. bahkan beliau sangat peduli dengan keadaan masyarakat fakir. Ketika mengajarkan agama Islam, beliau lebih menkankan  empati, gotong royong serta kedermawanan. 

Peninggalan Sunan Drajat

Kisah Singkat Sunan Drajat

Dalam menyebarkan agama Islam Sunan Drajat banyak memakai ajaran leluhur dan tradisi lokal. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya artefak di kompleks makam Sunan Drajat dengan tulisan ajaran catur piwulang. Ajaran tersebut berisi tentang cara hidup manusia sebagai makhluk sosial yakni dengan saling menghargai serta tolong menolong terhadap sesama. 

Sunan drajat memiliki nama asli Raden Qosim. Sejak kecil dirinya telah dikenal sangat cerdas. Sebab itu, sang ayah yakni Sunan Ampel, menginginkan dirinya menjadi pendakwah. Tujuannya supaya kecerdasan sang anak bermanfaat bagi orang lain, khususnya bagi agama.

Walaupun mulanya raden qosim kurang minat dengan dunia dakwah, namun akhirnya dirinya pun menyukainya. Awalnya dirinya berdakwah dengan kakaknya yakni Sunan Bonang. Tetapi, sang ayah selalu membujuk agar Sunan Drajat mau berdakwah sendirian. Akhirnya dirinya diutus ke wilayah Jawa Timur oleh ayahnya.

Tetapi raden qosim menolak permintaan ayahnya dengan alasan masyarakat jawa timur dominan dengan agama hindu. Dirinya beranggapan sulit untuk dapat menembusnya. Hal ini membuatnya ayahnya mengambil keputusan untuk memberi kebebasan raden qosim berdakwah. 

Tetapi raden qosim lagi lagi tidak menyetujuinya. Jadi, setelah beranjak dewasa, dirinya pun memilih Lamongan untuk dakwah yang dilakukannya. Karena figure kakak raden qosim, akhirnya dirinya terbuka mata hatinya untuk mengikuti dakwah yang dilakukan. Lokasinya di Desa Drajat, kabupaten Lamongan. 

Itulah sebabnya kenapa Raden Qosim dipanggil sebagai Sunan Drajat dan berarti derajat ataupun tingkatan kehidupan manusia.Tak hanya di lamongan, Sunan Drajat melakukan dakwah pula ke wilayah pesisir utara pulau Jawa. Tapi, beliau akhirnya tetap kembali di Desa Drajat.

Metode Dakwah 

Dalam menyebarkan agama Islam Sunan Drajat menerapkan cara dan strategi tertentu. Ini bertujuan agar setiap orang yang mendengarnya dapat memahami dengan benar hingga tertarik untuk belajar Islam. Awal mula metode dakwah yang dilakukan Sunan Drajat yakni dengan cara memberikan kesejahteraan. 

Kesejahteraan tersebut beliau berikan pada masyarakat ketika memegang kekuasaan otonomi di wilayah Kerajaan Demak kurang lebih selama 36 tahun. Sebagai penerapannya Sunan Drajat memberikan bantuan kepada rakyat yang kekurangan. Selain itu, beliau juga membantu masyarakat untuk meningkatkan kehidupan perekonomian dengan menambah skill serta pengetahuan. Seiring dengan kegiatan tersebutlah dakwah beliau berjalan. 

Sama halnya ketika beliau memberikan ajaran Islam di daerah pesisir, beliau juga memberikan pengetahuan kepada penduduk. Dimana penduduk tersebut mayoritas adalah nelayan, sehingga beliau menjelaskan bahwa di laut banyak jenis ikan yang halal dan juga haram. Sementara awal mula media tembang jawa beliau terapkan ketika berada di Desa Drajat. Berikut beberapa metode yang pernah digunakan oleh Sunan Drajat dalam menyiarkan agama Islam apabila kita rangkum.

Berbaur Dengan Masyarakat

Dalam menyebarkan agama Islam Sunan Drajat menerapkan cara berbaur secara langsung dengan masyarakat. Dengan demikian, segala permasalahan yang terjadi di masyarakat dapat diselesaikan dengan lebih efektif. 

Memakai Metode Kesenian

Selain terjun langsung ke masyarakat, beliau juga memakai cara penerapan pada metode kesenian. Dalam kesenian beliau mencipatakan tembang pangkur sebagai media dakwahnya. Hingga masyarakat setempat menjadi lebih tertarik untuk mendengar dan belajar agama Islam. 

Menggunakan Filosofi Sendiri

Beliau dikenal akan kecerdasannya, sehingga dalam berdakwah beliau sering memakai filosofi sendiri. Filosofi tersebut dikenal sebagai ketujuh sap tangga.

Peninggalan Sunan Drajat

Sunan Drajat wafat sekitar tahun 1530 Masehi dan dimakamkan di Desa Drajat tepat diusia 52 tahun. Meskipun sudah wafat beliau tetap dikenang oleh masyarakat khususnya Desa Drajat dan umumnya masyarakat lamongan serta masyarakat Islam. Mengingat peninggalan dari beliau cukup mengenang di masyarakat bahkan hingga saat ini kita masih bisa melihatnya.

Tembang Jawa

Tembang pangkur merupakan tembang jawa yang menjadi satu karya dari Sunan Drajat dan menjadi peninggalan penting. Hingga saat ini tembang pangkur masih dipelajari dalam mata pelajaran Bahasa Jawa dan menjadi salah satu tembang macapat. 

Surau Banjaranyar

Ini merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun oleh Sunan Drajat. Terletak di Banjaranyar yang mulanya bernama Desa Jelak. Adanya surau ini membuat antusiasme warga sangat besar. hal ini disebabkan tetua adat atau mertua dari Sunan Drajat merupakan sorang muslim sebelum Sunan Drajat datang. 

Masjid Sunan Drajat

Masjid ini berlokasi di kompleks yang sama dengan makam Sunan Drajat. Bangunannya cukup awet meskipun dilakukan pemugaran, tapi tidak menghilangkan ciri khas dari bangunan masjidnya. 

Museum Sunan Drajat

Peninggalan yang satu ini tidak dibangun oleh Sunan Drajat dan dibangun oleh pemerintah Lamongan. Meskipun demikian museum ini diresmikan tanggal 1 Maret 1992 dan berisi karya-karyanya serta barang lain seperti bedug, kain, keramik, dan kertas serta buku. 

Singo Mengkok

Yang dinamakan singo mengkok ialah salah satu peninggalan sunan drajat yang berupa gamelan set. Peninggalan ini terawat dengan baik dan ditaruh di Museum Sunan Drajat atau berlokasi tak jauh dari makam Sunan Drajat berada.

Makam Sunan Drajat

Peninggalan yang selanjutnya ialah Makam Sunan Drajat. Lokasi makam sunan drajat ini berlokasi di Perbukitan Paciran atau biasa disebut degan Ndalem Dhuwur. Sama dengan kompleks pemakanan wali lainnya, lokasi ini bukan Cuma terdapat satu makam saja. Namun juga terdapat banyak makam pula.

Selain makam juga ada masjid peninggalan Sunan Drajat disini. Masjid buatannya juga sangat unik. Yakni, terdapat museum Sunan Drajat dekat dengan masjid yang memungkinkan pengunjung melakukan shalat di area ini. Jadi, setelah melihat peninggalan sunan drajat, pengunjung dapat beribadah shalat dengan baik di masjid ini.

Bukti keberhasilan dakwah sunan drajat bisa dilihat dari Paciran. Disini telah diajari dengan ilmu agama sekaligus ilmu lainnya khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam hal ini, sunan drajat mengajari murid muridnya dengan ketrampilan yang mendukung pengembangan SDM khususnya bagi penduduk sekitar supaya hidup lebih sejahtera.

Meskipun awalnya dipaksa oleh ayah handanya, namun sunan drajat akhirnya merasa ikhlas dan tergerak hatinya untuk berdakwah. Sehingga dirinya mengajarkan seluruh ilmu dalam dirinya untuk masyarakat di Lamongan.

Karena usaha sunan drajat yang sungguh sungguh, akhirnya desa Drajat, atau Paciran jadi desa Islam. Sampai sekarang di desa tersebut juga banyak peziarah datang untuk mendoakan sunan drajat. Tentunya itu dapat mengangkat ekonomi masyarakat sekitar. 

Demikianlah kisah tentang peninggalan Sunan Drajat yang bisa Anda jadikan sebagai pelajaran perkembangan islam di Indonesia.

Posting Komentar untuk " Peninggalan Sunan Drajat, Kisah yang Menarik untuk Disimak!"

Berlangganan via Email